cerita

Oleh oleh dari Bali

01:15

Konten [Tampil]
Oleh oleh dari Bali pantai kuta


Untuk kedua kalinya di tahun ini saya pergi ke Bali. Tentu saja bersama anak anak, karena memang saya yang mengikuti kegiatan anak anak. Kali ini ke Bali tetap seperti awal tahun lalu yaitu mengikuti anak anak yang ikut turnamen sepak bola. Hanya saja kalau dulu turnamennya berlangsung di Jembrana, kali ini di Kuta utara tepatnya di lapangan Bina Raga Dalung.

Jadwal pertandingan yang agak panjang mau tak mau membuat kami dan tim harus lebih lama tinggal di Bali. Kami membawa dua tim yang terdiri dari U 10 dan U 12. Masing masing tim bertanding di hari yang berbeda. dan setiap kelompok umur memakan waktu dua hari untuk bertanding. 

Untuk kelompok umur 10, ternyata harus puas sampai 10 besar saja. meskipun di pertandingan awal selalu unggul atas lawan, namun pertandingan selanjutnya selalu saja seri sehingga posisinya sejajar dengan 10 tim lainnya. Entah alasan apa yang digunakan panitia, kenapa kok tidak menggunakan pinalti saja untuk menentukan pemenang. Karena untuk menentukan 4 besar dilakukan melalui undian. Ya, kami harus mundur karena kalah undian. Walaupun sedikit kecewa, namun kami tetap berusaha membesarkan hati anak anak. Karena mereka mundur bukan karena kalah bertanding. Bahkan tidak ada satu gol pun yang masuk ke gawang tim kami. 

Jika di lihat saat pertandingan, kami tetap merasa bangga karena anak anak mampu bertahan bahkan menyerang tim lain yang postur tubuhnya lebih besar. Hanya saja keberuntungan memang belum menjadi milik kami. Meskipun berulang kari menyerang lawan, namun tidak ada gol yang tercipta.

Untunglah anak anak dari kelompok umur yang lebih besar, yaitu kelompok umur 12 mampu membayar kekecewaan dengan meraih juara 1. Dengan penuh perjuangan, akhirnya kami membawa pulang piala dan uang tunai sebagai hadiah. Memang sih, kalau dibandingkan dengan biaya perjalanan kami ke Bali, nilai hadiah itu tidak seberapa, namun proses untuk mendapatkan hadiah itulah yang membuatnya menjadi sangat bernilai. Dan anak-anak pun sadar, bukan berapa nilai uang yang mereka cari. Tapi pencapaian yang mereka peroleh setelah melalui latihan yang tidak sebentar.

Oleh oleh dari Bali, putra Panji juara Dalung Cup 1 2019

Selama turnamen, kami menginap di penginapan semacam losmen tapi sudah dilengkapi kolam renang. Kami memang memilih penginapan dengan harga terjangkau, agar biaya yang dikeluarkan oleh masing masing anak tidak terlalu besar.

Sementara itu, saya bersama mamak mamak bola lainnya yang menjadi pendamping anak anak juga tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Sore hari di kala anak anak tidak ada jam pertandingan, kami menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa pusat oleh-oleh. Tenang saja, karena sudah ada Pak Guru dan beberapa bapak dan ibu wali murid lainnya yang akan menjaga anak anak di penginapan.

The Keranjang Oleh oleh dari Bali


Tujuan pertama kami, adaah The Keranjang Bali. Pusat oleh-oleh yang baru saja hadir ini memang belum sepenuhnya selesai dibangun. Bentuk gedungnya unik, menyerupai keranjang belanja raksasa. Apalagi kalau malam hari bertaburan lampu, menarik sekali. Saat itu baru lantai pertama saja yang kami jelajahi dan sepertinya memang belum selesai sepenuhnya. Namun sudah lumayan banyak barang yang di jual. Seperti tempat kekinian lainnya, The Keranjang juga menyediakan spot foto untuk pengunjung. Bahkan sampai ada petunjuk, spot foto yang menghasilkan sudut terbaik. Kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk jeprat jepret, apalagi waktu itu situasi tidak terlalu ramai. Lumayanlah untuk kenang kenangan hehehe.

Keesokan harinya bersama rombongan, kami mengunjungi pusat oleh oleh Erlangga 2, yang tempatnya lebih dekat dengan penginapan. Pusat oleh oleh ini luar biasa besarnya. Barang yang dijual pun beraneka ragam dengan harga yang terjangkau. Mulai dari kain, gantungan kunci, makanan pokoknya lengkap deh. 

Erlangga Oleh oleh dari Bali


Hari ketiga di Bali, anak anak hanya bermain di dua pertandingan saja dan pertandingan berikutnya berlangsung keesokan harinya. Kembali saya dan tiga mamak bola lainnya memanfaatkan kesempatan ini untuk berjalan jalan. Dua anak laki laki saya tidak mau di ajak karena mau berenang saja di penginapan, jadilah yang ikut hanya si anak cewek.

Kali ini tujuan pertama kami adalah ke pabrik kata-kata Joger yang sudah terkenal akan keunikan dan keotentikannya. Karena Joger ini hanya ada di Bali, tidak membuka cabang dan barang-barangnya tidak di jual secara online. Karena ekslusivitas inilah, harga barang di Joger berbeda dengan pusat oleh-oleh lainnya, namun memang kualitasnya juga terjamin. 
Kalau anda gemar membaca, anda akan menghabiskna waktu berjam jam hanya untuk membaca tulisan di tempat ini, saran saya sebelum masuk Joger tetapkan dulu tujuan anda. Mau membaca atau mau berbelanja wkwkwkwk. Yang jelas ya beli oleh-oleh ya tooo...

Joger Oleh oleh dari Bali

Keluar dari Joger, kami merasakan lapar juga. Akhirnya kami mampir di salah satu warung khas bali yang dekat dengan pusat oleh oleh Joger Bali. Nama warungnya adalah warung Bu Made Candra. Kami membeli makanan khas Bali di Warung ini. Penasaran? Nanti ya, akan saya ceritakan di blogpost selanjutnya. Hehehehe...

Setelah kenyang, kami menuju ke tempat lainnya yaitu WBF atau World Brand Factory yang juga berada di sekitaran Kuta. Di tempat ini tersedia produk produk dari berbagai macam Brand yang sudah mendunia seperti Adidas, Nike, Converse, dan lain-lain. Karena saat itu sedang libur kenaikan kelas, ada beberapa brand yang memberi discount untuk sepatu sepatu sekolah. Saya tertarik untuk membelikan anak kedua saya, namun karena model dan harga yang cocok tidak ada ukurannya yang sesuai akhirnya batal membeli. Banyak sih model lainnya, tapi harganya tidak cocok dengan kantong saya wkwkwk.

Selain tempat pusat oleh oleh yang telah saya kunjungi di atas, sebenarnya masih banyak tempat leh-oleh lainnya. Seperti Khrisna, pasar Sukawati, BeachWalk, Pasar seni Kuta dan lain-lain. Semuanya menawarkan barang yang bisa dijadikan oleh-oleh. Namun jangan lupa sesuaikan dompet jika ingin mengunjungi tempat tempat tersebut. Karena ada beberapa tempat yang khusus menyediakan barang untuk kelas menengah ke atas. Tapi kalaupun hanya melihat-lihat, saya kira tidak ada yang melarang kok.


Jangan lupakan juga, yang khas di daerah wisata seperti di Bali ini adalah hadirnya para pedagang yang menggelar dagangannya di sekitar penginapan. Asalkan pintar menawar, kita akan mendapatkan barang yang sangat murah. Tapi jangan terlalu sadis juga nawarnya, karena mereka hanya pedagang kecil. Sesuaikan saja kualitas barang dengan harga pasarannya. Karena kaau kita tidak pandai menawar, kitanya juga yang akan rugi. Karena mereka biasanya menawarkan harga jauh di atas rata-rata. Walupun ada juga pedagang yang menawarkan harga to the point, tapi itu sangat jarang sekali. 


Oh ya, saya juga membeli Pie Susu sebagai oleh oleh khas Bali. Namun, saya membeli melalui teman saya yang kemudian diantarkan ke penginapan menggunakan ojek online. Harganya cukup murah, untuk pie susu isi 10 hanya 17.500. Sedangkan yang isi 25 harganya 37.500 dan yang isi 50 harganya 75.000. Saya belum sempat bertanya dimana belinya. Karena siapa tahu akan ada yang mengajak saya untuk jalan-jalan ke Bali lagi secara gratis, jadi saya bisa memesan sendiri untuk oleh oleh.


Waah, tak terasa sudah panjang cerita saya tentang oleh-oleh dari Bali kali ini. Dari sekian tempat yang saya kunjungi saya hanya membeli beberapa potong kain batik untuk kedua kakak dan ibu saya. Beberapa kaos untuk anak anak dan adik saya, gantungan kunci, celana pantai, perintilan mainan untuk mainan Ai anak saya dan beberapa sandal bertuliskan Bali yang saya beli di The Keranjang. Saya sendiri hanya membeli sepasang sandal untuk kenang kenangan.


Meskipun tidak memebeli banyak barang, di perjalanan ke Bali ini saya puas berjalan-jalan sampai gempor. Doa saya adalah, semoga bisa ke Bali lagi secara gratis dan membeli oleh-oleh yang berbeda dari yang saya beli kemarin hehehehe...aminin yaaa... Amiiin.



Oleh oleh yang saya bawa dari Bali tidak hanya berupa barang tapi juga cerita dan pengalaman. Baik pengalaman selama turnamen bola atau selama jalan-jalan di Bali. 
Bagaimanapun juga dalam pertandingan meskipun di atas lapangan kita lebih baik dari lawan. Namun jika belum diizinkan untuk menang maka piala pun tidak akan sampai di tangan. Begitu juga sebaliknya, jika sudah digariskan untuk menang, maka akan selalu ada jalan untuk membawa pulang piala. Yang penting sudah berusaha dan berdoa semaksimal mungkin. Biarlah langit yang memutuskan.


Nah itulah cerita tentang oleh oleh dari Bali dari saya, semoga nanti bakalan ada cerita tentang oleh-oleh lagi dari daerah lainnya ya...amiin. Doa aja terus, siapa tahu dikabulkan. Ya kan?

facebook

twitter

pinterest

linkedin

You Might Also Like

1 comments

  1. Saya sudah berapa kali ya ke Bali? Eh belum pernah sama sekali nih ternyata wkwk

    BalasHapus