Momentum

13.37.00 Retno Kusumawardani 0 Comments

"Ah itu kan cuma pikiranmu saja”

“Tapi,aku sudah menemukan bukti, apalagi alasanmu sekarang?”

“Sudahlah sayang…cuma berteman biasa aja,gak lebih… kamu kan juga udah baca sendiri apa isi sms-sms itu…’’ ujar Andre sambil berusaha meraih tangan  Ratih, namun dengan cepat Ratih menarik tangannya.

“Sudahlah… aku sudah capek, aku muak dengan semua ini… tak kuduga kamu sepengecut itu.” Ratih nampak sangat marah, otot-otot diwajahnya menegang menahan amarah.

Andre mendekat, mencoba untuk memeluk istrinya tapi ternyata usahanya sia-sia. Ratih melangkah menjauh, tak biasanya perempuan cantik itu menghindari pelukan suaminya, kemarahan benar-benar menguasainya. Diraihnya segelas air putih yang ada di depannya, diminumnya perlahan. Andre hanya diam sambil menahan nafas, dia tak mengira istrinya akan semarah itu.

”Sudah berapa kali kalian bertemu?’’ suara Ratih tertahan seakan takut dengan jawaban yang akan didengarnya.
Senyum Andre mengembang, seolah-olah dia baru saja mendapat tenaga baru, “kan sudah mas bilang,sayang… mas belum pernah bertemu, cuma sms-an saja, mas gak ada apa-apa sama dia…’’

“Dasar pembohong!!!’’ Ratih berteriak keras, “Kalau memang mas tidak ada apa-apa, kenapa sms nya harus sembunyi-sembunyi?’’
’’Aku takut kamu marah sayang…’’
‘’Huh’’ Ratih mendengus kesal
“Dasar lelaki murahan…!’’ Ratih semakin marah “Gak cuma perempuan aja yang murahan, bagiku lelaki juga ada yang murahan…kaya kamu itu…sudah punya istri masih juga kegatelan’’
Andre terkesiap, dia tak mengira perempuan yang dicintainya itu sampai mengeluarkan kata-kata kasar, dia tak berani menjawab karena tahu memang dia yang salah, jawabannya hanya akan menambah keruh suasana.

Ditariknya nafas dalam-dalam. Dengan suara yang nyaris tak terdengar, Andre mencoba untuk meminta maaf pada istrinya, satu-satunya wanita yang ada di hatinya.

“Sayang, mas minta maaf….mas janji gak akan ngulangi lagi…’’
”Coba mas pikir’’ kata Ratih dengan nada lebih rendah ‘’Seumpama aku yang ngelakuin seperti apa yang mas lakukan, apa mas rela?’’

Dalam diam, hati Andre mengakui mana ada lelaki yang rela istrinya berhubungan dengan lelaki lain dengan sembunyi-sembunyi.
“Aku benar-benar kecewa, sakit hatiku… kalau memang mas udah gak cinta, gak sayang lebih baik utarakan saja… jangan dengan cara seperti ini!’’

“Mas bener-bener minta maaf…aku mohon…akan mas lakukan apapun untuk menebusnya..’’
Ratih menarik nafas dalam-dalam kemudian dia berkata
“Baiklah…kita lupakan saja semua ini… anggap saja tidak pernah terjadi,walaupun pedih hatiku jika mengingatnya’’
Andre terperangah, dia terkejut karena biasanya tak secepat itu istrinya memberi maaf. Meskipun hanya persoalan kecil, biasaya Ratih sulit untuk memaafkan, ‘’pasti ada sesuatu’’ pikir Andre dalam hati.
‘’Lalu?’’ Tanya Andre
‘’Lalu apalagi?’’ujar Ratih kesal
‘’Apakah kamu benar-benar memaafkanku…atau jangan-jangan kau akan membalas dendam suatu saat nanti..’’ kata Andre hati-hati, bagaimanapun juga diakuinya istrinya adalah perempuan cerdas yang tidak mungkin mengatakan sesuatu tanpa dipikir dan Ratih bukanlah tipe perempuan yang suka menjilat ludahnya sendiri.

‘’Balas dendam…maksud mas?’’
‘’Yaaa..mungkin,suatu saat nanti kamu akan mencintai orang lain dibelakangku…’’ tersendat-sendat Andre mengungkapkan maksud pembicaraannya.

‘’Dengar ya mas…aku bukan perempuan murahan!’’ nada suara Ratih meninggi ‘’Aku lahir sebagai perempuan terhornat, pantang bagiku untuk berbuat rendah’’
Andre diam

‘’Tapi ingat, jika mas melakukannya lagi maka aku akan pergi dari rumah ini, uruslah keperluanmu sendiri karena kita sudah tidak ada urusan lagi’’

‘’Maksudmu?’’
‘’Ya,artinya kita pisah”
’Pisah?”

“Ya.. pisah.. aku siap menghidupi diriku sendiri, kalau saat ini aku tidak bekerja, bukan berarti aku tidak mampu, tapi karena aku menghormati kehendakmu sebagai suamiku….aku masih punya cita-cita…aku punya mimpi yang akan kuraih dengan atau tanpamu…jangan kau lupa  pula aku masih punya teman dan saudara yang mencintaiku tanpa syarat…mereka tidak akan segan menolongku.”

Selama ini Andre memang membatasi gerak Ratih, belum pernah sekalipun Ratih keluar rumah tanpa dirinya atau orang kepercayaannya. Dicukupinya segala kebutuhan istrinya bahkan tanpa Ratih minta, hadiah-hadiah yang bagus dan mahal selalu diberikan Andre walau tidak sedang merayakan apapun. Bagi Andre memberi hadiah istrinya adalah kebahagiaan tersendiri.

Namun sekarang, Andre baru sadar kalau ternyata semua yang dilakukannya hanya mengurung fisik istrinya saja, tidak dengan hati dan pikirannya.
*****
Ratih tersenyum, sama seperti senyumnya sepuluh tahun lalu, senyum yang penuh kemenangan. September ini adalah yang ke sepuluh sejak  kejadian itu. Pertengkaran yang dia rancang untuk meyakinkan suaminya bahwa  dia adalah wanita yang kuat dan berpendirian.

Waktu itu yang dia butuhkan hanyalah sebuah momentum, ya… sebuah momentum untuk merubah hidupnya, merubah sikap Andre kepadanya dan merubah cara pandang Andre terhadapnya.

Beruntung Tuhan menolongnya dengan menghadiahkan sebuah kejadian tak terduga. Andre, suaminya asyik berkirim sms dengan wanita lain diluar sepengetahuan Ratih. Skenario dirancang, kemarahan besar yang palsu dilakukan. Kata-kata kasar pun terpaksa dilontarkan. Ratih puas dengan aktingnya saat itu, masih teringat betapa marahnya dia dan betapa kalutnya Andre.

Ratih tak ingin menguasai atau mengatur Andre yang notabene sebagai kepala keluarga seperti pepatah orang Yunani. Lelaki adalah pemimpin dalam keluarga dan wanita adalah leher yang dapat memerintahkan kemanapun lelaki itu akan menoleh.
Tidak… bukan itu yang diinginkan Ratih adalah adanya kebersamaan dalam membangun sebuah keluarga, dimana suami menghargai pendapat istrinya, mau mendengarkan keluh kesah istrinya membuat keputusan bersama dan menjadikan istrinya perempuan mandiri dan penuh inisiatif.

Bagi Ratih perempuan bukanlah pajangan di rumah yang diberi pakaian dan perhiasan yang bagus tapi tidak bisa mengekspresikan dirinya. Bukannya sejak zaman Rasulullah perempuan memiliki hak yang sama dengan pria disamping melakukan kewajibannya sebagai perempuan, sebut saja Nasibah binti Ka’ab yang berperang disamping Rasulullah dengan menggunakan pedang, bahkan dia tidak berhenti sampai terdapat 13 luka ditubuhnya.
Dalam kehidupan keluarga ada Aisyah RA yang dengan kecerdasannya mampu menyampaikan pendapatnya dengan terbuka, sangat mudah dimengerti dan masuk akal. Bahkan beliau mampu berdiskusi dengan nabi Muhammad SAW mengenai berbagai macam hal.
*****
“Sedang memikirkan apa sayang?” sebuah tangan kekar dengan lembut melingkar di pinggangnya. Dirasakannya desah nafas hangat meniup rambut-rambut kecil ditengkuknya. Ada perasaan nyaman yang turut mengalir dalam aliran darahnya.

Tanpa disadari, rupanya Andre sudah berdiri di belakangnya beberapa saat lalu dan memperhatikannya yang sedang termenung.
‘’Ada apa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” Ratih berbalik lalu dirangkulnya leher lelaki yang dicintainya, dengan setengah berbisik Ratih berkata

“Sayangku, tak tahukah betapa bahagianya aku menikah denganmu? kau jadikan aku ratu di istanamu, dan kau adalah rajaku, kau hargai aku, kau ijinkan aku menjadi diriku sendiri, kebahagiaan apalagi yang akan kucari? semua sudah kau berikan untukku…terima kasih sayang…” Keduanya pun berpelukan begitu dalam dan hangat. Sedalam dan sehangat cinta mereka.
*****
Senja kian memerah, burung – burung terbang kembali ke sarangnya. Langit memendarkan warna keemasan, sore yang indah. Seindah September –September yang akan datang, yang akan mereka lalui bersama dalam kehangatan cinta.

You Might Also Like

0 komentar: