humaniora

UsiaCantik : Hidup Lebih Sempurna dengan Berbagi

12:43

Konten [Tampil]
UsiaCantik : Hidup Lebih Sempurna dengan Berbagi

Niat awal menulis kisah Rita Dwi Purnamawati atau mbak Rita atau bu Rita begitu biasa dia dipanggil adalah kerena tergelitik dengan ceritanya tentang sekolahan dan kotoran ayam.

Namun setelah selesai menuliskan kisah beliau secara lengkap,  saya baru menyadari, betapa saya selama ini masih sibuk dengan diri saya sendiri.  Hidup di dunia saya sendiri.  Saya belum pernah melakukan apa-apa untuk masyarakat di sekitar saya....

Baiklah,  mbak Rita kini sudah menjalani #usiacantik dengan bahagia dan penuh syukur,  bagaimana kisahnya di masa lalu...  Simak ya...

Masa kecil dan remaja

Dilahirkan 43 tahun yang lalu di sebuah desa yang Jauh dari keramaian kota. Sejak kecil memang fisiknya lemah, sering sakit-sakitan. Sudah jadi cerita yang wajar jika sering tidak masuk sekolah dikarenakan sakit. Itulah yang membuat dirinya tak sepintar saudarinya yang lahir terlebih dahulu.

Bapaknya yang seorang Guru, ternyata tidak cukup mampu membantunya menjadi anak yang menonjol di kelasnya. Sampai Guru kelasnya mengatakan kalau dia anak yang bodoh. Jaman itu, ucapan Guru tidak ada yang berani membantah, maka dia pun pasrah saja jika dikatakan demikian. Hatinya sebenarnya terluka, namun dia simpan sendiri.

Di usianya yang ke sebelas, lahirlah adik perempuannya. Bapak dan Ibu yang sibuk bekerja, membuat dia dan kakak perempuan satu-satunya menjadi anak yang mandiri dan terampil. Kalau kakaknya yang mempunyai fisik lebih kuat mendapat bagian pekerjaan rumah yang lebih berat seperti: mencari kayu bakar, mencari rumput untuk kelinci peliharaan mereka, menyalakan lampu petromak dan lain sebagainya.

Sedangkan dia yang sakit-sakitan mendapat bagian pekerjaan yang lebih ringan seperti menanak nasi, membersihkan rumah, mencuci piring dan merawat adiknya yang masih bayi sepulang sekolah.

Sampai SMA bahkan sampai kuliah masih saja sering sakit-sakitan. Walaupun demikian tidak menjadikannya lemah. Baginya yang sakit hanyalah fisik. Selagi dia mampu maka diapun aktif di berbagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah seperti pramuka. Ketika kuliah pun aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan.


Sampai akhirnya cinta mempertemukan dengan sang suami yang merupakan tetangga di desa. Selepas kuliah, menjadi ibu rumah tangga yang bersuamikan supir truk. Setiap beberapa hari sekali sang suami pergi bekerja dengan menyopiri truk pengangkut buah ke Bandung.


Merintis sekolah PAUD

Karena sang suami sakit, akhirnya trukpun dijual. Karena tidak ada pekerjaan lain,sebelum akhirnya uang habis untuk kebutuhan sehari-hari maka uang hasil penjualan truk digunakan untuk mendirikan kios di depan rumah.

Sebuah kios kecil yang menjual onderdil sepeda motor. Awal-awal berjualan, barang yang ada hanyalah sebagai pengisi toko saja. Karena sisa uang penjualan truk habis untuk membangun kios.

Disaat itulah, sebagai orang yang dianggap berpendidikan, Mbak Rita ditunjuk oleh pemerintah desa dan Dinas Pendidikan setempat untuk mendirikan PAUD dan menjadi Kepala Sekolah yang dibantu oleh seorang guru.

UsiaCantik : Hidup Lebih Sempurna dengan Berbagi
Berjalan-jalan mengitari kebun di dekat sekolah adalah salah satu kegiatan favorit anak-anak.

Muridnya adalah anak-anak yang tinggal di sekitar tempat tinggalnya yang letaknya berjauhan dengan Taman Kanak-Kanak yang sudah ada terlebih dahulu. Akhirnya sejak 15 Juni 2006 Berdirilah Paud dibawah bimbingannya. Dimulailah rutinitasnya, pagi menjadi guru di PAUD sedangkan siang harinya membantu suaminya di kios miliknya yang sekaligus bengkel sepeda motor.


Menjadi Guru PAUD dan Tukang tambal ban

Selain bengkel juga melayani tambal ban. Apabila ada ban bocor, sementara suaminya sibuk mereparasi motor pelanggan, atau pergi untuk kulakan maka tidak segan-segan dia yang menjadi tukang tambal bannya. Sempat juga di cemooh, Sarjana kok nambal ban. Bukan itu saja Orang tuanya yang juga guru pun sempat dijadikan bahan omongan. Buat apa menyekolahkan anak perempuan jauh-jauh ke kota kalau akhirnya Cuma menjadi tukang tambal ban.Tapi Bapak dan Ibunya tak merasa malu, karena memang pekerjaan putrinya adalah pekerjaan yang halal.


Kembali ke sekolah PAUD. Karena masih baru, sekolah ini belum memiliki gedung sendiri. tempat belajar pun nunut/nebeng di tempat warga yang kebetulaan memiliki ruang tamu yang agak luas.

Beberapa bulan kemudian sekolah berpindah lagi ke rumah seorang kakek yang tidak punya anak dan istri. Mbah Min. Mbah Min ini tinggal di sebuah rumah bambu berlantaikan tanah. Pada saat pertama pindah, masih belum ada teras dan genting banyak yang bocor.

UsiaCantik : Hidup Lebih Sempurna dengan Berbagi
Rumah yang dulu pernah jadi "gedung" sekolah


Setelah satu tahun barulah mendapat bantuan dari pemerintah desa. Yaitu uang sebesar Rp500.000. Untuk membenahi atap saja tidak cukup karena genting juga banyak yang pecah. Untunglah ada donator yang membantu,sehingga atap tidak bocor lagi.


Mengajar sekaligus beramal

Pada saat itu uang SPP siswa sebesar Rp.10.000 itupun digunakan untuk membayar dua orang guru, untuk membeli alat tulis kantor, kapur dan transport guru jika rapat di kota kecamatan bahkan kadang ke kota kabupaten. Sekali kadang dua kali dalam seminggu murid-murid mendapat makanan tambahan dari sekolah. 

Kadang berupa bubur kacang hijau kadang nasi dan sayur beserta lauk pauknya. Kalau beruntung, ada donator yang menyumbang makanan tambahan tersebut. Kalau tidak ada yang menyumbang ya pakai uang mbak Rita sendiri. Karena rata-rata murid berasal dari keluarga tidak mampu, jadi tidak tega jika harus memungut uang selain SPP.


Belum lagi jika ada kegiatan IGTKI yang mengharuskan membayar. Murid yang terkumpul saat itu sekitar 20 sekian anak. Bisa dipastikan uang SPP siswa yang terkumpul tidak mencukupi untuk semua biaya operasional sekolah.

Jadi, mengajar bukannya mendapatkan gaji kadang malah harus tekor agar sekolah tetap berjalan. Sedangkan saat itu keadaan perekonomian mbak Rita masih pas-pasan. Selain untuk kehidupan sehari-hari juga harus menabung untuk membangun rumah sendiri. Yang waktu itu lantainya masih berupa tanah. tembok pun belum dilapis semen, jadi masih terlihat batu batanya.


Kotoran ayam dan gurem

Tempat sekolah sudah tidak bocor lagi, masih memiliki permasalahan lain. Yaitu kotoran ayam!

Rumah yang dijadikan sekolah itu terdiri dari 1 ruangan besar yang disekat. Sebagian menjadi tempat tinggal mbah Min. Sebagian dijadikan ruang belajar. Waktu itu mbah Min memiliki peliharaan beberapa ekor ayam yang bebas keluar masuk karena memang dinding rumah banyak yang bolong.

Jadilah setiap pelajaran belum mulai mbak Rita dan seorang guru lainnya membersihkan kelas terlebih dahulu dari kotoran ayam yang banyak tercecer. Bahkan kalau ada ayam yang selesai mengerami telurnya, saat pagi kotorannya melebar memenuhi meja. Ditambah lagi banyak gurem (kutu ayam) dimana-mana. Akhirnya untuk mengusir gurem harus membeli mbako (tembakau kering) atau parfum. Kalau tidak begitu…. Anak-anak satu kelas bisa terserang gatal-gatal semua.
UsiaCantik : Hidup Lebih Sempurna dengan Berbagi
botol bekas pun dimanfaatkan untuk menambah koleksi mainan anak-anak.

Pada tahun 2008 baru mendapat bantuan alat peraga edukatif dari dinas pendidikan kabupaten. Karena fisiknya yang sakit-sakitan mbak Rita tidak berani mengendarai motor sendiri bila ada undangan rapat di kantor Dinas Kabupaten yang jaraknya kurang lebih 30 km (pulang pergi 60 km). Jadi apabila ada rapat, pulang pergi ya naik ojek. Karena hanya itu satu-satunya alat transportasi yang mungkin dipakai.


Lagi-lagi agar sekolah tetap berjalan, ngojek pun menggunakan uang pribadi. Mbak Rita menganggap dengan menggunakan jasa ojek telah membantu orang lain yang membutuhkan pekerjaan. Meskipun rapat untuk kepentingan sekolah PAUD, dana pribadi yang dia gunakan dia anggap sebagai amal.

Belum lagi tantangan yang luar biasa dari orang tua murid yang menganggap metode belajar sambil bermain hanyalah sesuatu yang sia-sia. Menurut mereka yang namanya sekolah itu ya isinya belajar membaca, menulis dan berhitung. Ada beberapa yang memindahkan anaknya ke sekolah di kota kecamatan. Bahkan ada pula yang berusaha mempengaruhi wali murid lain untuk memindahkan anak-anaknya.

#UsiaCantik

Kini setelah bertahun-tahun melewati masa-masa itu dengan cerita yang penuh suka dan duka yang tidak mungkin saya ceritakan semuanya. Mbak Rita merasa bahwa hidupnya kini lebih berarti. Tempaan hidup menjadikannya wanita yang kuat secara mental.

Sekarang hidupnya sudah berkecukupan, bahkan bermanfaat bagi orang banyak. PAUD yang dia bina pun kini telah menempati gedung sekolah baru, meskipun fasilitasnya belum lengkap.

UsiaCantik : Hidup Lebih Sempurna dengan Berbagi
bekerja bakti bersama wali murid untuyk menanam bunga di gedung sekolah yang baru.

Di usia cantiknya yang sekarang telah menunjukkan bahwa mbak Rita tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri. tapi juga untuk membangun lingkungannya. Mendidik anak-anak bangsa yang banyak diantara mereka kekurangan kasih sayang dari orang tuanya sendiri.





“Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift.”



·         


·         

facebook

twitter

pinterest

linkedin

You Might Also Like

21 comments

  1. Dulu Mba Ika Puspita, kakakku yg blogger Semarang itu juga bikin PAUD di rumah. Beruntungnya ada rumah bapak yang kosong.. Tapi emang bener sih Mba, sekolah di desa mah ga bisa dijadikan tempat cari uang, kalau orientasinya cuma uang yaa.. Karena kebanyakan nomboknya. Itu pun mending kalau ngga diomong di belakang. Kadang yang ngga tau menilainya uang itu dimakan sendiri..pdhl ngga seberapa ya Mba..

    Aku paham banget deh kehidupan guru PAUD di desa kecil..

    BalasHapus
  2. Mendidik anak anak paud itu luar biasa ya mba..membekas deh didikannya, karena awal awal mereka mengenal lingkungannya berkat guru guru di awal awal pendidikan anak anak.

    BalasHapus
  3. Ngiri yo, mbak, kalo ada orang-orang dengan tekad baja seperti itu. Salam buat mbak Rita nggih

    BalasHapus
  4. Semangat Mba Rita patut diacungi jempol, zaman sekarang loh. Masih gigih menebar manfaat untuk dunia pendidikan :)

    BalasHapus
  5. Hebatsekali mbaaa...suksess dehh mbaa...demi menyelamatkann generasi bangsaa....

    salam blogger mbaa

    BalasHapus
  6. Padahal ta pembelajaran di bawah SD itu ya harusnya memang diisi dengan bermain, bukan dengan membaca menulis dan berhitung. Hmm -_-

    BalasHapus
  7. sangat inspiratif.. seorang wanita akan makin cantik bila sifatnya cantik.. juga bila dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkugan di sekitarnya...

    BalasHapus
  8. Inspiring mba.. indonesia maju karena orang orang seperti bu Rita

    BalasHapus
  9. semoga mbak Rita selalu menjadi inspirasi

    BalasHapus
  10. Subhanallah, kekuatan wanita yang luar biasa.

    BalasHapus
  11. Salut sama tekat beliau, meski orang lain sempat mandang remeh karena pekerjaan tambal bannya. Tapi apa yang sudah beliau perbuat buat anak2 dan sekitar, luar biasa ;)

    BalasHapus
  12. Mbak Rita sangat menginspirasi ya ... Salut.

    BalasHapus
  13. Ah berasa banget cobaannya jadi guru PAUD. Makanya dulu aku gak mau jadi guru pas diminta. Gajinya gak seberapa, ikhlasnya harus luar biasa.

    BalasHapus
  14. Semoga sukses selalu buat Mbak Rita. Di usia cantik ini, semua makin lancar.

    BalasHapus
  15. Duh pengorbanan banget ya hiduonya Mbak Rita. Btw, semoga menang ya Mbak Retno.

    BalasHapus
  16. mba rita hebat banget. semoga hidupnya makin berkah dan inspiratif di usia cantiknya

    BalasHapus
  17. Konon katanya memang benar jadi guru paud itu bisa bikin awet muda mbak

    BalasHapus
  18. Masya Allah. Selalu kagum dg perempuan2 berhati mulia. Semoga beliau sehat2 terus ya dan makin dilancarkan rejekinya. Good luck, mba 😊

    BalasHapus
  19. Mbak... aku merinding selama membacanya. Luar biasa sekali. Aku sampai nyesek pengen nangis. AKu jadi merasa masih belum banyak bermanfaat untuk sekitar. Mbrebes mili, aku Mbaaak....
    LUAR BIASA sekali. AKu selalu iri dan terinspirasi jika ada sosok semacam ini. jauh dari gempita namun berkilau di gelapnya sekitar.
    Aah.. aku jadi ingin semedi kembali, kembali ke masyarakat. Meski aku sudah aktif di komuntas dan kegiatan rumbel, kisah Mbak Rita ini membuatku merasa masih beri manfaat kecil bagi sekitar.
    Aah.. jadi makin semangat bikin rumbel di rumah. ALhamdulillah proses awal, yaitu sekat rumah sudah selesai kemarin. Tinggal bikin rak & tata buku yg ada. Semoga beri manfaat.
    Moga sukses ngontesnya Mbak

    BalasHapus
  20. wah ...salut dech buat mbak Rita...mental baja... patut dicontoh

    BalasHapus