Cara Mengatur Gaji Diri Sendiri dari Usaha Rumahan Biar Nggak Tercampur Uang Modal
14:16Menjalankan usaha rumahan sering membuat batas antara uang bisnis dan uang pribadi menjadi tipis. Hari ini menerima pembayaran dari pelanggan, besok uang tersebut dipakai membeli bahan baku, membayar tagihan rumah, atau bahkan membeli kebutuhan pribadi. Akibatnya, pemilik usaha bisa merasa bisnisnya menghasilkan banyak uang, padahal modal untuk berjualan berikutnya justru semakin menipis.
Masalah tersebut sebenarnya bisa dihindari dengan satu kebiasaan sederhana: menganggap diri sendiri sebagai pihak yang juga harus dibayar oleh bisnis. Dengan begitu, pemilik usaha tidak mengambil uang dari kas usaha setiap kali membutuhkan uang pribadi, melainkan menerima gaji atau pengambilan pribadi dengan jumlah dan jadwal yang sudah ditentukan.
Lalu, Bagaimana Cara Mengatur Uang Gaji Diri?
1. Pisahkan Uang Modal, Operasional, dan Pribadi
Langkah pertama adalah membuat batas yang jelas antara uang usaha dan uang pribadi. Tidak harus langsung menggunakan sistem akuntansi yang rumit. Pemilik usaha rumahan dapat memulainya dengan rekening atau dompet digital terpisah khusus bisnis.
Kebiasaan ini penting karena pencampuran uang membuat pemilik usaha sulit mengetahui kondisi keuangan sebenarnya. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menekankan pentingnya pencatatan pemasukan dan pengeluaran serta pemisahan uang usaha dan pribadi dalam edukasi literasi keuangan bagi pelaku usaha.
Prinsip pemisahan keuangan juga membantu pemilik usaha menyaring informasi dari berbagai sumber, termasuk berita kripto, sebelum menggunakan uang bisnis untuk keputusan finansial pribadi.
Jadi, ketika pelanggan membayar Rp500.000, seluruh uang tersebut jangan langsung dianggap sebagai uang yang bisa digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.
2. Hitung Berapa Uang yang Benar-Benar Bisa Diambil
Pendapatan bukan berarti keuntungan. Misalnya, usaha makanan rumahan mendapatkan omzet Rp10 juta dalam satu bulan. Setelah dikurangi bahan baku, kemasan, ongkos kirim, listrik yang digunakan untuk produksi, biaya pemasaran, dan kebutuhan operasional lainnya, ternyata keuntungan bersih hanya Rp3 juta.
Artinya, pemilik usaha tidak seharusnya mengambil Rp5 juta hanya karena omzet terlihat besar. Sebelum menentukan gaji, hitung terlebih dahulu omzet, biaya operasional, keuntungan, serta kebutuhan modal untuk periode berikutnya. Dengan cara ini, gaji pemilik usaha tidak mengganggu kemampuan bisnis untuk terus beroperasi.
3. Tentukan Nominal Gaji yang Realistis
Setelah mengetahui keuntungan rata-rata, tentukan nominal pengambilan pribadi yang konsisten. Misalnya, usaha rata-rata menghasilkan keuntungan bersih Rp4 juta per bulan.
Pemilik dapat menetapkan pengambilan pribadi Rp2 juta setiap bulan, sedangkan sisanya digunakan untuk modal kerja, dana cadangan, atau pengembangan bisnis.
Tidak ada satu persentase yang cocok untuk semua usaha. Besarnya pengambilan harus disesuaikan dengan margin keuntungan, kestabilan omzet, kebutuhan modal, dan target pertumbuhan bisnis.
Yang terpenting, jangan menentukan nominal berdasarkan kebutuhan pribadi semata. Gaji pemilik harus mengikuti kemampuan bisnis.
4. Tetapkan Jadwal Pengambilan Uang
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah mengambil uang dari bisnis kapan pun membutuhkan. Hari ini Rp200.000 untuk belanja, besok Rp300.000 untuk membayar tagihan, kemudian mengambil lagi Rp100.000 untuk kebutuhan lainnya. Jika terus dilakukan, transaksi kecil tersebut akan sulit dilacak.
Sebagai gantinya, tentukan jadwal tetap, misalnya setiap tanggal 1 atau tanggal 25. Dengan sistem ini, pemilik usaha dapat memperlakukan pembayaran kepada dirinya sendiri sebagai transaksi yang memang sudah direncanakan.
Konsep pencatatan pengambilan pribadi dari bisnis juga dikenal dalam praktik pembukuan usaha. IRS, misalnya, menjelaskan penggunaan drawing account untuk mencatat uang bisnis yang ditarik pemilik untuk kebutuhan pribadi atau keluarga.
5. Jangan Mengambil Uang Modal untuk Kebutuhan Pribadi
Uang yang dialokasikan untuk membeli stok, bahan baku, kemasan, membayar supplier, atau kebutuhan produksi harus dianggap sebagai uang yang "terkunci" untuk bisnis.
Contohnya, seorang pemilik usaha kue memiliki modal kerja Rp5 juta. Jika Rp1 juta diambil untuk kebutuhan pribadi tanpa perhitungan, ia mungkin hanya memiliki Rp4 juta untuk membeli bahan baku berikutnya. Ketika pesanan meningkat, modal yang tersedia justru tidak cukup. Inilah alasan mengapa uang modal sebaiknya tidak diperlakukan sebagai tabungan pribadi.
6. Catat Setiap Pengambilan Gaji atau Pribadi
Tidak perlu menggunakan software akuntansi mahal untuk memulai. Spreadsheet sederhana atau aplikasi pencatatan keuangan sudah dapat digunakan untuk mencatat tanggal, nominal, dan tujuan setiap transaksi.
Pencatatan membantu pemilik mengetahui ke mana uang usaha mengalir. OJK juga menyebut pembukuan keuangan yang baik dan sistematis dapat membantu pelaku usaha mengelola bisnis serta mengontrol arus kas.
Untuk usaha yang transaksinya mulai semakin kompleks, pemilik juga dapat mempertimbangkan bantuan kantor akuntan publik atau tenaga profesional di bidang akuntansi agar pencatatan, laporan keuangan, dan evaluasi kondisi bisnis dilakukan secara lebih terstruktur.
Sementara itu, IRS merekomendasikan pencatatan transaksi secara rutin dan pemisahan rekening bisnis dengan rekening pribadi agar catatan keuangan lebih mudah ditelusuri.
7. Evaluasi Gaji Setiap Beberapa Bulan
Gaji pemilik usaha tidak harus selamanya sama. Ketika omzet dan keuntungan meningkat secara konsisten, nominal tersebut dapat dievaluasi. Sebaliknya, jika bisnis mengalami penurunan selama beberapa bulan, pemilik mungkin perlu mengurangi pengambilan pribadi agar arus kas tetap sehat.
Namun, perubahan sebaiknya dilakukan berdasarkan data, bukan sekadar perasaan. Catat keuntungan beberapa bulan terakhir, lihat kebutuhan modal, kemudian tentukan nominal yang masih aman untuk bisnis.
Pada akhirnya, membayar diri sendiri dari usaha rumahan bukan berarti mengambil sebanyak mungkin uang dari bisnis. Justru sebaliknya, sistem gaji yang teratur membantu pemilik mengetahui berapa uang yang benar-benar boleh digunakan untuk kebutuhan pribadi tanpa mengorbankan modal usaha.
Pisahkan rekening, hitung keuntungan, tentukan nominal, buat jadwal, dan catat setiap pengambilan. Dengan kebiasaan tersebut, uang hasil usaha tidak lagi bercampur dengan uang pribadi, sementara bisnis tetap memiliki modal untuk tumbuh.






0 comments