Anakku masuk SD umur 7 tahun

21.14.00 Retno Kusumawardani 34 Comments

masuk SD umur 7
Melompatlah setinggi mimpimu, Nak...


Sudah memasuki akhir Maret, bagi orang tua yang anaknya melewati masa kelulusan sekolah tentunya sudah bersiap-siap mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan tahun ajaran baru. Pun demikian dengan sekolah TK dimana anak saya bersekolah.

Untuk menghadapi tahun ajaran baru itulah para wali murid diundang ke sekolah. Disebutkan bahwa TK menyediakan fasilitas pendaftaran kolektif, sehingga orang tua hanya menyiapkan surat-surat dan keterangan yang dibutuhkan lalu dikumpulkan di sekolah.  Nantinya sekolah yang akan mendaftarkan ke SD tujuan. Hanya saja untuk beberapa Sekolah Dasar tertentu, pada saat mendaftar orang tua wajib mendampingi.

Saat ini usia mbak Ai, demikian saya biasanya memanggil anak saya, hampir tujuh tahun. Lahir di bulan Mei, berarti pada saat mendaftar SD nanti usia mbak Ai, 7 tahun lebih 2 bulan. Saya memang sengaja memasukkan anak saya ke SD pada usia 7 tahun. Karena menurut saya pada usia tersebut anak saya sudah siap secara mental. Mengapa begitu, berikut ini beberapa alasannya:
·        Dituntut lebih mandiri

Berbeda dengan di TK yang selalu dibantu oleh ibu Guru, di SD anak dituntut untuk melakukan sendiri hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan pribadinya. Misalnya saja pergi ke kamar kecil, mengambil dan merapikan bekal.

·        Bertemu dengan orang-orang yang lebih beragam.
Kalau di TK, teman sekolah adalah teman sebaya sedangkan di SD teman sekolahnya mulai dari usia 7 tahun sampai kurang lebih 12 tahun. Yang masing-masing memiliki karakter dan sifat yang jauh beragam dibandingkan dengan teman TK.

·        Menghadapi lingkungan dan suasana baru
Meskipun ada beberapa teman TK yang mungkin nantinya menjadi teman SD, tapi akan jauh lebih banyak teman yang baru dikenal. Selain itu cara mengajar guru SD yang sangat berbeda dengan di TK. Guru SD menuntut siswa untuk lebih mandiri.

Menurut survey kecil-kecilan yang pernah saya lakukan (halah… padahal juga Cuma tanya sama beberapa tetangga hihihi) anak yang usianya kurang dari 7 tahun atau setidak-tidaknya 6,5 tahun sudah masuk SD. Akan mudah mengikuti pelajaran pada tahun-tahun awal sekolah saja, ketika menginjak tahun ke empat anak seperti sudah mencapai titik kejenuhan. Ditandai dengan malas belajar dan mengerjakan PR. Selain itu anak dengan usia 7 tahun lebih memiliki tanggung jawab dibandingkan dengan usia anak dibawahnya.

Jadi ingat pengalaman saya waktu mengantarkan bekal ke sekolah anak saya yang pertama. Waktu itu anak saya masih kelas satu SD. Pada waktu istirahat, saya mencari anak saya di kelasnya. Tidak seperti biasanya, semua penghuni kelas ada di luar kelas. Tidak ada sama sekali yang di dalam kelas. Ternyata ada berita tersebar bahwa sebelumnya ada yang melihat  pintu kamar mandi yang letaknya di samping kelas bergerak sendiri. Dan ada yang bilang hal itu terjadi karena ulah hantu.  Bahkan ada yang menambahi kalau kipas angin di dalam kelas tiba-tiba juga bergerak sendiri.

Anak-anak bergerombol di luar kelas, bahkan yang uang sakunya ketinggalan di dalam tas tidak berani masuk ke dalam kelas. Saya tertawa geli melihat tingkah anak-anak itu. Saya beritahu beberapa anak yang kebetulan berada di dekat saya, bahwa mahluk gaib itu ada di mana-mana. Mereka tidak akan mengganggu kita jika kita tidak mengganggunya. Jika takut, maka berdoalah agar rasa takut itu hilang.  Anak-anak mendengarkan dengan serius sekali, seolah-olah baru pertama kali mendengar apa yang saya omongkan.

Karena waktu istirahat habis, saya pun segera pulang. Nah, ketika anak saya sampai di rumah, saya tanya bagaimana kelanjutan kehebohan di kelas tadi. Katanya, Bu Guru kemudian masuk kelas,, meskipun dengan perasaan takut, teman-temannya masuk kelas juga. Dari 30 anak di kelasnya, yang tidak takut cuma anak saya dan seorang temannya. Ketika saya lihat di daftar penerimaan murid. Ternyata teman yang dikatakan anak saya tersebut usianya sudah lebih dari 7 tahun.  Inilah salah satu contoh kematangan mental, yaitu anak tidak mudah terpengaruh oleh sesuatu yang tidak benar. Contoh lain dari siap mental adalah tidak malu secara berlebihan kepada teman baru, tidak takut kepada guru yang baru dikenal, mudah menerima perbedaan dan lain-lain.

baca juga : Agar anak tak rewel saat pertama masuk sekolah

Saya pernah bercerita sebelumnya bahwa anak saya yang pertama sudah masuk PAUD pada usia 3 tahun. Dulu saya lakukan karena terpaksa. Meskipun waktu itu saya punya seorang ART terus terang saya kuwalahan. Karena di usia anak pertama tiga tahun sudah ada dua adiknya yang berumur 1 tahun dan yang baru lahir. Dan lagi anak sulung saya ini sangat kelebihan energi alias tidak bisa diam.  Akhirnya saya pun menyekolahkan anak pertama saya ini ke PAUD. Lumayanlah ada waktu mulai jam 7 sampai jam 10 untuk menyelesaikan pekerjaan rumah.

Namun ketika anak saya lulus TK, saya menyesal karena terlalu dini melepas anak saya ke sekolah. Saya waktu itu baru sadar bahwa masa anak-anak adalah masa bermain. Dan masa anak-anak tidak akan pernah terulang lagi.

 Akhirnya setelah lulus TK pada usia 6 tahun, anak saya yang pertama tidak langsung melanjutkan ke SD. Sedangkan adiknya yang sudah terlanjur lulus dari Paud juga tidak melanjutkan ke TK. Ya… anak saya berhenti sekolah selama satu tahun. Hal ini saya lakukan untuk menebus waktu mereka yang telah saya sita untuk sekolah. Saya ingin mereka puas menjadi anak-anak yang bebas bermain dan mengekspresikan diri. Walaupun saya tidak tahu apakah tindakan yang saya lakukan ini ada efeknya apa tidak, tapi setidaknya saya lega telah memberi mereka waktu untuk menjadi anak-anak yang sebenarnya.

Lalu selama satu tahun itu apa yang anak-anak saya lakukan? Mereka hanya bermain dan mengaji pada sore hari. Pagi hari ketika teman-teman mereka bersekolah mereka bermain sepeda, bermain bola, berlari-lari di jalan kampung (kami memang tinggal di kampung bukan di perumahan). Kalau musim hujan mereka main hujan-hujanan bahkan bermain lumpur.

Apa yang saya lakukan dipandang aneh oleh orang sekitar saya, tapi saya tidak peduli. Jadi bahan omongan orang kampung? Itu sih sudah pasti hihihi

Mereka heran kok bisa-bisanya saya biarkan anak-anak saya bermain lumpur bahkan membawa pulang apapun yang mereka temukan di jalan. Mulai dari batu kerikil, potongan keramik, kertas, daun-daun kering sampai ranting pohon. Semuanya menumpuk di teras rumah. Terus, rumah jadi kotor dong… ah, itu sih biasa heheheh.

 Saya pun cuma bilang pada orang-orang, mumpung masih anak-anak biarlah mereka berlaku seperti anak-anak. Biar puas jadi anak-anak, nanti toh kalau sudah besar mereka tidak akan melakukan itu karena sudah punya rasa malu.

Akhirnya setelah satu tahun, anak-anak kembali bersekolah. Si sulung masuk SD pada usia 7 tahun lebih 3 bulan. Kini sudah duduk di kelas dua sekolah dasar. Dan kini giliran adiknya yang kedua akan masuk SD pada usia 7 tahun lebih 2 bulan.

Demikianlah cerita saya seorang ibu yang takut jika anak-anaknya kehilangan kekanak-kanakannya. Mungkin saya dipandang terlalu parno dan bertindak berlebihan.  Mungkin anda pembaca yang budiman, memiliki pendapat berbeda tentang apa yang telah saya lakukan? Monggo saya siap menampung hehehe.

Semoga segala urusan dimudahkan dan anak kedua saya bisa masuk ke sekolah yang dia inginkan. Aamiin. Terimakasih atas kesediaan membaca coretan saya yang apalah-apalah ini.





You Might Also Like

34 komentar:

  1. Asyik.... Mas Ai akan masuk SD... berarti sudah besar dooong

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah besar mbak...saya jadi berasa tua..

      Hapus
  2. Mbak keren... di saat hampir semua ibu2 menyekolahkan anaknya di usia dini, justru mbak melakukan cara yang lain...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya kan ngga kerja mba...jadi mending main-main di rumah aja sama mamanya, lagian yang namanya belajar tidak harus pakai seragam dan memegang pinsil dan buku...mereka belajar lewat apa yang mereka lihat, mereka dengar dan mereka rasakan..

      Hapus
  3. Boro-boro anak kecil mbak, saya aja yg udah tua terkadang terpengaruh sesuatu yg belum tentu benar kebenarannya. Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang begitu-begitu sih saya juga hahahha...emaknya pingin anak-anaknya ga separah emaknya hahaha

      Hapus
  4. Sepakat mbak, memasukan anak ke sekolah sebelum waktunya ibarat memeram buah. Matangnya tidak seenak buah yang matang di pohon.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga apa yang say lakukan ini bermanfaat buat mereka ya bu Ika...

      Hapus
  5. Asma nanti masuk SD kurang dari 7 tahun. Sekarang aja usianya masih mau 5 tahun. Tahun depan mau 6 tahun pas masuk TK B. Dia dulu PAUDnya dari sebelum umur 2 tahun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wiih...anakku yang paling kecil masuk Paud waktu usianya 4 tahun. Nanti dia 7 tahun juga masuk SD nya..

      Hapus
  6. Iya aku pengennya juga gitu mbak, anak aku nanti lulis TKB baru 5 setengah tahun, rencana akau ngulang TK lagi, tapi tetep lulusnya jadi 6 setengah tahun, kalo ngulang lagi takut kelamaan.. Uhuhu. Tapi mereka ngga bermasalah dalam sosiali kan ya mbak kalo setahun nganggur? anak aku anak rumahan banget, ngga pernah main keluar rumah.. Takutnya kalo aku anggurin setahun, ntar dia kagok pas masuk SD.. Uhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kebetulan anak pertamaku seneng main mbak, temannya dari ujung ke ujung kampung, jadi adik2nya juga begitu. Lagipula kalau sore hari masih mengaji. Monggo dipikirkan lagi, yang tau keadaan anak kita ya kita sendiri. Makanya saya tidak menyarankan untuk melakukan hal yang sama, karena kondisi tiap anak berbeda...karena nanti juga ditanyai sama orang2 kenapa kok tidak sekolah, anak juga harus dibekali jawaban yang masuk akal, soalnya saya tinggal di kampung sih mbak jadi banyak yang ngomongin kita jadi anak sm emak harus siap mental hehehee

      Hapus
  7. Tahun ajaran baru kemarin saya coba masukin alfi ke semacam daycare gitu. Umurnya baru 2,5 tahun, alhamdulillah cuma bertahan 4 hari udah mogok. :).

    Mungkin saya egois, anak lain bisa anak saya pasti juga bisa. Padahal setiap anak itu khan beda.

    Terima kasih sharingnya mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak betul...lagian kecerdasan anak kan macam-macam mbak. Biar bebas bereksprwsi dulu. Anak kedua pada waktu masih TK A, saya sudah mintakan izin tidak saya ajari calistung dulu. Untunglah gurunya mengrti. Sedangkan anak yang ketiga yang sekarang masih TK A, untungnya bu gurunya sealiran sama saya bahwa masa anak-anak adalah masa bermain jadi tidak menuntut anak untuk bisa calistung..

      Hapus
  8. Saya juga berencana memasukkan anak saya pacs usia 7 tahun di SD. Playgroupnya homeschooling saja ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mbak, kalau saja dulu anak pertama tidak terlanjur masuk paud, adik2 nya juga akan mengikuti, tapi karena terlanjur ya sudahlah...menunda sebentar masa anak keluar dari rumah (sekolah) saya rasa baik juga untuk meningkatkan hubungan antar keluarga..

      Hapus
  9. wah TK juga sudah ada calistung ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurikulum TK sebenarnya ga ada mbak, tapi guru TK serba salah, karena tuntutan dari SD, anak masuk SD harus sudah bisa baca tulis. Mereka berdalih kalau kelas satu SD baru diajari calistung maka akan ketinggalan pelajaran

      Hapus
  10. Saya belum punya anak dan setuju banget kalau anak itu harus puas jadi anak-anak. Semoga Mbak Ai sekolahnya lancar. :)

    BalasHapus
  11. Semoga lancar sekolahnya ya, Mbak. Kita tidak bisa memuaskan hati setiap orang :-) jadi biarkan saja omongan2 orang itu :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, kadang harus nebelin kuping heheheh

      Hapus
  12. anak saya baru 4 tahun dan sekarang sudah masuk TK A, rencananya saya gak mau buru-buru masukin dia di SD biarlah dia puas-puasin main dulu di TK :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masa anak-anak tidak akan pernah terulang ya mbak...

      Hapus
  13. Saya produk masuk SD umur 7th Mba, hehehe..dan nanti akan meneruskannya ke anak2. Anak pertama pas lahirnya bulan Juli, jadi 7th pas deh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo lahirnya pas bulan juni atau juli emang enak mbak...ortunya ga bingung hehehe

      Hapus
  14. Anak saya pun nanti masuk SD nya mendekati umur 7 tahun, sekarang baru mau masuk TK A, sebelumnya ga sekolah karena kasian kalau terlalu lama sekolah takutnya bosan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu dia, karena terkadang anak tidak mampu mengungkapkan apa yang dia rasakan jatuhnya rewel atau sakit...

      Hapus
  15. Wah sekarang SD 7 tahun ya, dulu pas aku masuk SD masih 5,5 tahun. Itu pun SD di kampung soalnya kalo buat daftar SD di kota umurnya belum cukup dan nggak mau nerima. Sementara aku udah dua tahun TK. Masa iya mau TK lagi setahun, hihihi.

    BalasHapus
  16. Biasanya usia minimal masuk SD 6,5 tahun mbak, kebetulan anak-anak saya lahirnya deket tabun ajaran baru, jadi masuk SD pas usianya 7 tahun...

    BalasHapus
  17. Halo mba salam kenal, anak sy kbetulan jg sama, taun depan lulus TK saat usia pas 6thn. Saya jd menyesal sndiri kenapa terlalu dini menyekolahkan anak. Awalnya usia 3th saya sekolahkan Paud agar dia bs punya teman dan sosialiasi dgn teman seumurnya. Berhubung di lingkungan rumah tidak ada teman sebaya. Akhirnya berlanjut di TK 2thn. Sy jadi mempertimbangkan cara Mbak Retno utk membebaskan anak bermain dulu di usia 6th nanti. Apalagi yg sy dengar, kurikulum SD sekarang lebih berat dari dulu. Melihat anak saya saat ini jg masih belum mandiri penuh, dibanding teman sekelasnya yang sudah usia 6thn (anak saya masih 5thn). Memang yang jadi pertimbangan besar, apa kata orang nanti, apa alasannya nanti, terlebih lagi neneknya pasti tidak mendukung keputusan saya kalo liat cucunya nganggur tidak sekolah. Mhn pencerahannya mbak, atau ada saran untuk saya? Terima kasih ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memutuskan anak untuk berhenti sekolah atau tidak itu benar2 perlu dipikirkan secara matang mba... kalau anaknya tipe cuek si lebih mudah bagi orang tua untuk terus2 an membesarkan hatinya saat ditanya orang, kenapa kok gak sekolah. Tapi kalaau anaknya perasaannya agak sensitif lebih baik jangan, karena anaknya bisa down akhirnya tidak percaya diri dan nantinya bisa pengaruh sampai dia besar nanti. Yang perlu dicatat juga: bukan hanya saya, orang tuanya yang jadi bahan omongan tapi juga anak-anak di lingkungan bermainnya akan diperlakukan beda.. bahkan ada orang tua yang melarang anaknya main sama anak saya... karena tidak bersekolah hehehe... jadi yang mengenali anak mba adalah mba sendiri, tipe anak yang bagaiman. Dan bayangkan jika anak mba diperlakukan seperti anak saya kira2 berpengaruh sama kepercayaan dirinya atau tidak.
      Kalu kiranyaa lebih baik masih di TK juga ga apa-apa... asalkan anak tidak terlalu ditekan harus ini itu, saya rasa diapun msh akan menganggap sekolah itu menyenangkan....

      Hapus
  18. Hi salam kenal, sy menemukan blog anda dr google dan spt menemukan kekuatan buat sy. Anak sy skr usia 5th 9bl kmr tes Sd di salah satu sd favorit di menteng dan tidak diterima. berhari2 sy memikirkannya namun membaca blog anda sy spt dicerahkan mungkin mmg krn usia anak sy masih kemudaan dan kadang ditanya apa jawab apa sementara tes SD skr tidak peduli krn yg mengetes juga dr pagi sampai siang ketemu puluhan anak pastinya anak sy yg kebagian jam 12 siang si guru sudah cape lelah dan waktu anak sy di psikotes tidak bs menjawab dg baik lgs di beri label tidak mandiri. Sedih sih begitu mudah memberi label pd seorg anak tanpa menilai lebih lanjut tp ya sudah stl membaca blog anda ya sy pikir knp hr dipaksa, biarkan anak sy seth lagi di tk B nya sambil bermain sebab ketika masuk SD yg ada hanya belajar dan belajar. Terima Kasih sudah berbagi.. Salam Mama Evancelia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mbak.. Saya juga senang mbak sudah berkunjung dan berkomentar disini...

      Hapus