lingkungan

Langkah Kecil Muda Mudi Bumi Mengurai Selimut Polusi untuk Mengatasi Perubahan Iklim

16.22.00

Selimut polusi membuat bumi semakin panas dan menyebabkan perubahan iklim

Kehujanan dan kena macet. Sedikit menggelikan sih peristiwa yang saya alami beberapa hari yang lalu. Sudah tahu kalau Indonesia cuma mengalami dua musim. Kalau enggak kemarau ya musim hujan, tapi begitu musim hujan datang malah keluar naik motor tidak membawa jas hujan. Padahal kan seharusnya sudah wajib hukumnya sedia jas hujan di jok motor. Namanya manusia emang tempatnya lupa ya, jadi maklumin saja. Sungguh syahdu rasanya di pagi hari yang dingin terjebak hujan dan macet dan bergelut dengan #SelimutPolusi.

Begitulah, daerah tempat tinggalku yang notabene "cuma" ibukota kabupaten beberapa waktu terakhir sering terjadi kemacetan. Ada dua titik utama kemacetan yang terjadi di kota Kepanjen yaitu pertigaan PLN dan perempatan Kepanjen. Di saat menjelang maghrib antrean kendaraan yang mau melewati pertigaan PLN memanjang hingga depan kantor UPTD.

Di selatan perempatan Kepanjen tak kalah panjang, kemacetan bahkan pernah sampai pasar Sumedang. Dari deretan kendaraan yang menunggu giliran untuk melintas itu sangat jarang sekali terdapat kendaraan umum. Hampir semuanya kendaraan pribadi dan kendaraan besar seperti truk pengangkut tebu.

selimut polusi akibat kemacetan di Kepanjen

Apa kabar kendaraan umum di kota Kepanjen? Menurut pengamatan sederhana saya, kendaraan umum semakin tidak populer di Kepanjen. Angkot yang biasanya mengangkut penumpang dari Kepanjen ke Pagak dan Kepanjen Gondanglegi jumlahnya semakin berkurang karena jumlah penumpang yang juga menyusut. Kendaraan yang paling mudah ditemukan adalah elf/bison jurusan ke kota Malang. Itupun jumlah penumpangnya menurun drastis. Hanya di jam-jam tertentu, seperti saat pulang sekolah saja penumpangnya banyak.

Beberapa hari yang lalu saya naik bison dari Kepanjen ke Kacuk. Sepanjang hampir 14 km hanya tiga penumpang yang naik. Itupun salah satunya adalah penumpang jarak dekat. Padahal dari Kepanjen cuma ada dua jenis angkutan yaitu bison dan mikrolet berwarna pink. Sedangkan bis sudah dilarang lewat tengah kota, mereka melewati jalur lintas barat yang jauh dari pusat kota. Sudah beberapa kali saya mengalami fenomena sepi penumpang ini. 

Angkutan umum yang benar benar hilang adalah angkutan umum yang menghubungkan kecamatan asal orang tua saya, Gedangan dengan kecamatan Gondanglegi. Beruntung pada saat saya masih jadi anak kos dahulu angkutan pedesaan yang menghubungkan dua kecamatan berjarak 25an KM itu masih beroperasi. 

Kini jika saya ingin mudik ke rumah orang tua harus membawa kendaraan pribadi, karena tak ada angkutan umum yang menuju ke sana. Menghilangnya angkutan umum ini salah satu penyebabnya adalah meningkatnya perekonomian masyarakat yang dibarengi dengan kemudahan kepemilikian kendaraan bermotor. Maka orang-orang pun memilih untuk naik kendaraan milik pribadi karena kendaraan umum yang tersedia pun kurang memberikan kenyamanan.

Jika keadaan ini tidak menjadi perhatian maka bukan tidak mungkin keberadaan kendaraan umum di daerah pinggiran akan semakin tergusur. Dan kemacetan tidaklah menjadi sekedar bayang-bayang tapi menjadi kenyataan seperti yang terjadi di Kepanjen akhir akhir ini.

Padahal seperti yang kita tahu keberadaan kendaraan bermotor adalah salah satu penyumbang polusi terbesar. Di Indonesia 85% polusi udara disebabkan oleh kendaraan bermotor. Asap kendaraan bermotor mengandung Karbon monoksida, Hidrokarbon, Karbon dioksida, Sulfur Oksida, Nitrogen Oksida dan timbal. Melalui saluran pernafasan, zat zat tersebut dapat masuk ke dalam tubuh dan menimbulkan gangguan kesehatan seperti gagal ginjal.

Lebih luas lagi, akumulasi asap kendaraan bermotor di atmosfer dapat meningkatkan efek gas rumah kaca yang salah satu akibatnya adalah perubahan iklim. Dengan demikian bisa dikatakan, selimut polusi membuat bumi semakin panas dan menyebabkan perubahan iklim.

Tak disangka bukan? Hal sederhana seperti memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan dengan transportasi umum ternyata memiliki pengaruh besar terhadap polusi yang berujung pada perubahan iklim

Sebelum membicarakan perubahan iklim lebih jauh, mari kita cermati beberapa penyebab perubahan iklim sebagai berikut :

Penyebab Perubahan Iklim

1. industri dan manufaktur.

Hingga saat ini masih banyak mesin mesin yang menggunakan bahan bakar fosil untuk beroperasi. Emisi yang dihasilkan dari sektor industri dan manufaktur ini merupakan salah satu yang terbesar secara global.

2. Penghasil energi

Sebagian besar listrik yang digunakan secara global diperoleh dari pembakaran batubara, minyak dan gas. Sumber daya terbarukan baru menyumbang seperempat dari kebutuhan listrik dunia.

3. Penebangan hutan

Penebangan hutan dan alih fungsi lahan juga menghasilkan emisi dan melepaskan karbon yang tersimpan di dalamnya.  Hutan berfungsi menyerap karbon dioksida di udara. Semakin berkurangnya hutan maka akan semakin berkurang pula kemampuan alam untuk mengurangi emisi di atmosfer.

4. Penggunaan alat transportasi berbahan bakar fosil. 

Kendaraan bermotor dengan bahan bakar fosil menghasilkan sisa pembakaran yang dapat mencemari udara. jIka satu kendaraan saja dapat menghasilkan polusi, bagaimana dengan bnay kendaraan dalam kondisi hidup di satu tempat yang saa seperti pada saat terjadi kemacetan?

5. Pertanian, peternakan dan perikanan

Masih belum banyak yang menyadari bahwa ketiga sektor di atas juga memiliki andil dalam perubahan ikli, padahal ketiganya adalah penghasil makanan yang dikonsumsi oleh semua orang. beberapa hal yang dapat menyumbang efek gas rumah kacaseperti : pembakaran lahan untuk memulai musim tanam yang baru. 

di sektor peternakan, ternyata kotoran hewan merupakan salah satu penyumbang gas metana terbesar di udara. begitu juga dengan penggunaan pupuk kandng. sEdangkan dari bidang perikanan penggunaan mesin kapal yang berbahan bakar fosil merupakan satu permasalahan tersendiri.

6. Penumpukan sampah

berbagai aktivitas manusia menyisakkan tumpukan sampah seperti sisa makanan, pakaian, plastik, dan kemasan lainnya yang tidak mudah terurai dapat menimbulkan gas yang dapat mengotori udara.

Semua aktivitas manusia dari waktu ke waktu dari mulai hal yang kecil hingga yang besar memiliki andil terhadap perubahan iklim. Dan dari paparan di atas tak hanya polusi udara saja yang berkontribusi pada perubahan iklim tapi juga pencemaran tanah dan pencemaran air.

Lalu apa dampak perubahan iklim bagi manusia?

Dampak Perubahan Iklim bagi Manusia 

1. Cuaca ekstrem

Perubahan iklim dapat mengakibatkan meningkatnya curah hujan, kenaikan suhu udara rata-rata, naiknya permukaan air laut, peningkatan suhu air laut, mencairnya gletser dan gunung es. 

2. Penurunan produksi pangan

Dalam bidang pertanian, cuaca yang tidak menentu, tingginya curah hujan dan kekeringan dapat mempengaruhi produksi pangan. Seringkali terjadi gagal panen karena kekeringan dan terkena banjir.

3. Penurunan jumlah hasil penangkapan ikan. 

Perubahan iklim dapat menyebabkan kerusakan karang yang merupakan sumber keaneka ragaman hayati lautan. Akibatnya supply pangan berkurang sehingga ketersediaan ikan di laut pun menurun.

4. Menurunnya kualitas dan kuantitas air. 

Tingginya curah hujan tidak menjamin meningkatnya ketersediaan air tanah. Jika terjadi banjir, air cenderung mengalir ke laut dan tidak terserap ke dalam tanah.

5. Meningkatnya potensi penyebaran penyakit

Cuaca ekstrim dan tidak menentu dapat menyebabkan imunitas menurun. Tingginya intensitas cahaya matahari, peningkatan suhu rata-rata dan kelembaban udara juga memicu timbulnya berbagai macam penyakit.

6. Kebakaran hutan dan lahan.

Dampak kekeringan yang berkepanjangan seringkali mengakibatkan kebakaran lahan dan hutan. Dengan berkurangnya jumlah hutan maka berpengaruh juga pada peningkatan efek gas rumah kaca. 

Hutan, solusi untuk perubahan iklim

Kerusakan hutan merupakan ancaman yang serius pada perubahan iklim. Karena kerusakan hutan berakibat langsung pada kerusakan atmosfer. Hutan merupakan satu-satunya cara yang terbukti nyata dan aman untuk mengatasi perubahan iklim. Karena hanya hutan terutama hutan tropis yang dapat menyimpan karbon dalam jumlah besar.

Melalui proses fotosintesis, hutan dapat menyerap CO2 secara aman pada bagian dahan, batang dan daunnya. Pada hutan tropis, selain tersimpan pada vegetasi, karbon juga tersimpan pada tanah. Hutan tropis menyimpan kurang lebih 470 milyar ton karbon, jumlah ini melebihi separuh dari jumlah karbon di daratan di seluruh dunia.

Terbayang kan jika sampai terjadi perubahan fungsi hutan menjadi perkebunan, pertanian atau bahkan penggundulan hutan, maka jumlah tutupan hutan akan berkurang dan berapa ton karbon yang akan dilepaskan ke atmosfer?

Itulah sebabnya dibutuhkan upaya serius untuk memulihkan hutan yang gundul dan menghentikan penggundulan hutan. Dengan mengembalikan hutan yang gundul ke kondisi semula maka berpotensi untuk mengurangi emisi total hingga 30%.

Jika anda merasa bukan siapa-siapa namun ingin berperan serta dalam mengatasi perubahan iklim, mari berjabat tangan. Kita bisa memulai untuk melakukan perubahan yang dimulai dari diri sendiri dan di lingkungan kita sendiri. Sebagai orang tua, dapat menjadikan langkah langkah sederhana ini sebagai teladan agar anak-anak memiliki kepedulian yang sama untuk lebih mencintai bumi.

Seperti sebuah lidi jika dia sendirian mungkin manfaatnya akan kurang terasa, namun jika bersatu dengan lidi-lidi lainnya maka akan menghasilkan kolaborasi yang besar dan berdampak nyata.

Dengan cara yang sederhana, mari kita menjadi lidi-lidi yang berserakan itu untuk kemudian bersatu dan memberikan perubahan untuk keberlangsungan bumi kita. Dimulai dari diri kita, ternyata beberapa langkah sederhana berikut ini dapat membantu menyelamatkan bumi kita dari ancaman perubahan iklim :

Langkah sederhana mengurangi #selimutpolusi

1. Minimalisir penggunaan plastik sekali pakai, kertas tissu dan bungkus makanan. 

Alih alih menggunakan ketiganya, kita dapat menggunakan kantung belanja, kain serbet yang dapat dicuci ulang dan membawa wadah dari rumah saat membeli makanan. Dengan demikian kita sudah mengurangi jumlah tumpukan sampah.

2. Lebih banyak berjalan kaki, menggunakan sepeda atau kendaraan umum saat bepergian. 

Saya selalu ditanya dan dipandang dengan penuh keheranan oleh orang yang saya temui saat berjalan kaki menuju warung. Di lingkungan saya, jalan kaki bukanlah cara yang familiar untuk pergi ke warung yang dekat sekalipun. Lebih parah lagi, kakak saya yang berjalan kaki menuju sekolah tempatnya mengajar malah dikira sedang bertengkar dengan suaminya. Jadi berjalan kaki tak hanya butuh kemauan tapi juga telinga yang tebal, biar tetap semangat meskipun dianggap terjadi sesuatu. Mengurangi perjalanan yang menggunakan kendaraan berbahan bakar fosil dapat mengurangi polusi udara.

mengatasi perubahan iklim dengan cara sederhana

3. Hemat energi. 

Seruan ini bukanlah hal yang baru lagi. Namun demikian masih banyak dari kita yang mengabaikannya. Seperti mematikan lampu tepat waktu atau mencabut charge hape begitu isinya sudah penuh. Bukan karena tak peduli, tapi karena pikiran terlalu disibukkan oleh hal lainnya. Namun saat ini sudah ada teknologi yang dapat kita terapkan misalnya untuk lampu kita dapat menggunakan smart lamp yang jadwalnya dapat kita atur melalui smartphone. Dengan hemat energi, kita dapat mengurangi penggunaan listrik yang sumbernya berasal dari pembakaran bahan bakar fosil.

4. Jangan buang-buang makanan. 

Lebih baik memasak secukupnya daripada membuang sisa makanan. Kalaupun sisa, makanan bisa diubah ke bentuk lainnya agar menambah selera saat makan. Dengan tidak adanya sisa makanan, kita juga berperan dalam mengurangi jumlah tumpukan sampah organik.

5. Memilah sampah rumah tangga. 

Saya belum memiliki pengolahan sampah sendiri di rumah, tapi saya berusaha untuk memisahkan sampah yang keluar dari rumah. Biasanya sampah sisa makanan seperti potongan sayur atau kulit buah saya tempatkan di wadah tersendiri. Terpisah dari sampah plastik, botol atau kertas. Pemisahan ini bermanfaat untuk proses daur ulang, dengan demikian meminimalisir sampah yang tidak bermanfaat yang berpotensi menjadi polutan di tanah.

6. Bijaksana dalam menggunakan pakaian. 

Beruntung kita tinggal di daerah tropis yang hanya memiliki dua musim yaitu penghujan dan kemarau. Untuk urusan pakaian di kedua musim tersebut tidak jauh berbeda. Dengan demikian kita bisa lebih bijaksana lagi dalam membeli pakaian. Terlalu menuruti keinginan untuk membeli pakaian model terbaru dianggap kurang bijaksana terhadap perubahan iklim. Karena industri fast fashiion global menyumbang kurang lebih 10 persen emisi global. Solusinya adalah sumbangkan pakaian layak pakai anda jika ingin membeli yang baru, beli pakaian sesuai kebutuhan dan gunakan pakaian lebih lama. Jangan merasa malu menggunakan pakaian yang sama, untuk mengakalinya kita masih bisa mix and match atau mendaur ulang pakaian tersebut menjadi model yang lain. 

7. Menanam Pohon. 

Saya tinggal di perkampungan yang lumayan padat. Awalnya seluruh permukaan tanah di rumah yang saya beli tertutup oleh keramik dan plester. Karena ingin memiliki pohon sendiri di rumah, sebagian plester yang ada di teras kami jebol dan kemudian mengurugnya dengan tanah. Di urugan tanah yang luasnya kurang lebih 50 cm x 2,5 meter itu kami tanami pohon delima dan murbei. Belakangan ada pohon mengkudu yang tumbuh dengan sendirinya. Alhamdulillah, meskipun di lahan yang sempit, pohon yang kami tanam masih bisa memberi manfaat untuk tetangga sekitar. Ada yang meminta buah delima dan mengkudu untuk dijadikan obat. Begitu juga untuk buah murbeinya, siapapun bisa memetiknya tanpa harus meminta izin kepada kali terlebih dahulu.

mengatasi selimut polusi dan perubahan iklim

Keberadaan pohon ini dapat menyerap polusi dari jalan yang ada di depan rumah dan membuat suasana rumah lebih sejuk dan udara lebih segar.

8. Bantu jaga hutan. 

Sekarang ini kita tidak harus turun sendiri ke hutan untuk bantu jaga hutan. Saatnya menjadi #MudaMudiBumi dengan menanam pohon di hutan atas nama kita dengan menjalankan misi melalui #TeamUpForImpact.

Itulah beberapa langkah sederhana yang bisa kita lakukan sendiri di rumah. Apabila langkah sederhana #UntukmuBumiku  ini dilakukan oleh semua orang, maka dampaknya akan besar untuk meminimalisir perubahan iklim yang kini semakin parah.

Andaikan ada kesempatan sebagai pembuat kebijakan, maka beberapa hal berikut ini akan menjadi agenda yang akan saya ajukan yaitu :

Kebijakan untuk mengurangi selimut polusi

1. Perbaiki transportasi umum. 

Masyarakat dengan sendirinya akan berpindah ke alat transportasi umum jika fasilitasnya nyaman, aman dan terjangkau. 

2. Beri ruang untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda. 

Jalanan di daerah saya pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya bisa dikatakan kurang ramah untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda. Tidak ada jalur khusus untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda. Saat berjalan kaki dan naik sepeda di jalan raya harus bersaing dengan kendaraan-kendaraan besar. Sangat tidak aman, maka tidak heran jika masyarakat lebih memilih untuk menggunakan kendaraan bermotor. Jika disediakan jalur khusus yang aman, maka akan semakin banyak jumlah pejalan kaki dan pengguna sepeda di jalan raya.

3. Subsidi dan peningkatan infrastruktur kendaraan listrik.

Saya pernah menonton tayangan youtuber luar negri yang memilih untuk membeli kendaraan listrik karena mendapat subsidi. Selain subsidi untuk pembelian juga ada subsidi untuk pajak sehingga lebih murah. Alasan lain dia memilih mobil listrik tersebut juga adanya kemudahan untuk pengisiannya. Saya kira cara ini dapat diterapkan untuk lebih menarik orang menggunakan kendaraan yang tidak menimbulkan emisi.

4. Investasi ke pembangkit listrik non fosil.

Sudah saatnya pembangkit listrik non fosil dijadikan primadona untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Tentunya pemilihan sumber energi alternatif ini disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing. Sumber energi alternatif ini antara lain : air terjun, pasang surut, tenaga surya, panas bumi, biomassa dan termasuk didalamnya biogas. Penggunaan energi alternatif ini karena beberapa alasan, diantaranya : sifatnya terbarukan atau tidak akan habis, lebih ramah lingkungan, jumlahnya melimpah, lebih murah dan dapat mencapai daerah terpencil disesuaikan dengan kondisi daerah.

5. Satu rumah satu tanaman 

Hampir semua orang memahami pentingnya tanaman hijau untuk kesehatan lingkungan. Namun tidak semua tergerak untuk memiliki tanaman di lingkungan rumahnya. Kebijakan satu rumah satu tanaman ini dapat memancing penghuninya untuk mau memelihara tanaman di lingkungan sekitarnya.

yang dapat dilakukan di rumah untuk mencegah pemanasan global

Satu langkah kecil sangat berarti untuk perubahan yang lebih besar. Kita bisa memulai dari diri kita sendiri dan untuk lingkungan kita sendiri. Menjadi #MudaMudiBumi yang peduli alam melalui langkah yang sederhana. Kita jaga alam maka alam akan jaga kita.

Semoga tulisan kecil ini memberikan manfaat dan menjadi pengingat bagi kita semua. Salam.


https://teamupforimpact.org/

https://media.neliti.com/media/publications/160211-ID-pengaruh-paparan-asap-kendaraan-bermotor.pdf

http://ditjenppi.menlhk.go.id/kcpi/

https://indonesia.un.org/id/175273-penyebab-dan-dampak-perubahan-iklim

https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6045858/7-penyebab-perubahan-iklim-akibat-aktivitas-manusia-kurangi-dari-sekarang

https://www.interfaithrainforest.org/s/Interfaith_IssuePrimer_TropicalForestsClimateChange_ID.pdf

https://finance.detik.com/energi/d-5995229/pengertian-energi-alternatif-contoh-macam-dan-manfaatnya


You Might Also Like

7 comments

  1. Hooh. Sama. Di daerah tempatku tinggal juga begitu. Kendaraan umum lintas kabupaten sudah berkurang banget. Kupikir kalau nggak naik kendaraan pribadi emang nggak bisa bepergian lintas kabupaten euy. Susah cari angkotnya.

    BalasHapus
  2. Bener banget. Sekarang iklim itu tidak menentu. Bahkan bisa hujan tiba-tiba atau malah langsung panas. Alhamdulillahnya sih juga sudah mulai membiasakan diri mengurangi penggunaan material berbahan dasar plastik untuk kebutuhan harian. Langkah sederhana seperti ini insya Allah berdampak pula.

    BalasHapus
  3. Bumi sudah semakin tua. Butuh tindakan nyata untuk menjaga keseimbangan bumi ini. Dan semuanya berawal dari kita sendiri. Mulai dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan sendiri aja dulu ya?

    BalasHapus
  4. Wah, terima kasih pengingatnya Kak. Menjaga lingkungan menjadi tanggung jawab kita semua ya, Kak. Semua orang bisa memulai langkah kecilnya masing-masing, demi lingkungan dan bumi yang lebih sehat.

    BalasHapus
  5. Pengen banget kemana-mana pakai kendaraan umum. biar bisa membantu mengurangi polusi udara. Semoga di Bandung transportasi umumnya bisa berjalan juga kayak di Jakarta

    BalasHapus
  6. Dulu yang terkenal macet dan polusi itu cuma kota-kota besar, sekarang gak pandang kota besar atau kecil, polusi sudah ada di mana-mana. Di kota kelahiran saya (Magetan) macet juga. Udaranya panas (padahal dekat gunung Lawu) dan sudah tidak sesegar jaman dulu. Masalah polusi benar2 jadi PR untuk Indonesia.

    BalasHapus
  7. Memang nyebelin sih yaaa sudah hujan kena macet pula 🙈🙈🙈 eh pakai lupa gak bawa jas hujan, belum lagi polusi di mana-mana. Iyaa ya, daripada ngeluh mulu mending mulai deh melakukan perubahan baik untuk jaga lingkungan.

    BalasHapus