tips

CekFakta : Jangan Telan Mentah Mentah Berita di Hadapan Anda

17:41

Konten [Tampil]


Pernahkah di Whatsapp grup Anda tersebar berita hoaks? Saya yakin semua orang pernah mengalaminya. Lalu bagaimana tanggapan warga grup tersebut? Diam saja? Muncul ucapan terima kasih atas info yang disampaikan? Atau bahkan ada yang menyarankan untuk mengecek kembali kebenaran berita tersebut? Tentunya tidak sedikit yang menelan berita tersebut mentah mentah ya.

Saya sendiri beberapa kali ” meluruskan” berita di WAG keluarga, harapan saya agar anggota keluarga saya tidak mudah percaya berita yang cepat beredar. Tapi saya juga tidak tahu apakah upaya saya tersebut memiliki efek atau tidak, karena begitu saya menyebutkan poin poin yang membuat berita tersebut jadi mentah, tidak ada yang merespon kembali. Jadi mereka menyangkal bukti yang saya berikan atau menerimanya saya juga tidak tahu.


Dan kejadian tersebut tidak hanya terjadi di WAG keluarga saya saja, nyatanya hampir semua WAG pernah mengalaminya. Kemudahan akses internet membuat informasi dengan mudahnya tersebar tanpa bendung. Siapapun dapat membuat berita tanpa adanya filter. Akibatnya banyak berita yang belum tentu kebenarannya tersebar denagn cepat.

Menurut data, tahun 2021 ini sebanyak 60% masyarakat Indonesia memiliki media sosial. Padahal menurut data yang lain lagi, daya literasi di Indonesia berada di urutan ke 70 dari negara negara di dunia. Bisa dibayangkan bagaimana infodemik ini menghampiri masyarakat kita yang memiliki daya literasi rendah. Infodemik adalah penyebaran informasi yang akurat maupun tidak akurat secara cepat dan luas. Ditambah lagi banyak yang mengambil kesempatan dari besarnya pengguna media sosial ini untuk keuntungan pribadi. Hingga muncullah judul yang clickbait dan propaganda.

Ada beberapa sebab orang mudah termakan hoaks, diantaranya:
  • Literasi, pendidikan dan pengetahuan yang kurang memadai sehingga membuat orang mudah percaya.
  • Fanatisme, atau kecintaan terhadap sesuatu secara berlebihan sehingga tidak mau mendengar pendapat yang berbeda.
  • Algoritma media sosial yang selalu mengarahkan pada berit atau sumber berita yang pernah berinteraksi dengan kita. Jadi Media sosial mempelajari kebiasaan kita kemudian menyarankan pola yang sama berdasarkan kebiasaan kita.
Informasi salah yang tersebar di masyarakat ada 3 jenis yaitu : Malinformasi, disinformasi dan misinformasi.

Malinformasi adalah : informasi yang sengaja disebarkan untuk menjatuhkan orang lain atau kelompok tertentu. Malinformasi ini dapat berupa hasutan kebencian.

Misinformasi adalah : informasi yang tidak benar tapi penyebarnya percaya bahwa info tersebut benar. Biasanya misinformasi ini tidak bertujuan jahat.

Disinformasi adalah : Informasi tidak benar yang sengaja disebarkan, para pelaku penyebar disinformasi ini memiliki tujuan tidak baik.

Menurut First Draft sebuah organisasi riset yang mengkhususkan diri untuk media, ada 7 macam Mis/Disinformasi yaitu :
  1. Satire / Parodi. Sebenarnya sebuah sindiran namun tidak semua orang memahaminya sehingga menganggap satire/parodi ini sebagai suatu kebenaran.
  2. Konten menyesatkan/ Misleading adalah konten yang dibuat untuk menggiring informasi tertentu seolah oleh info tersebut benar (framing).
  3. Konten pabrikasi yaitu konten yang sama sekali tidak benar yang memang sengaja dibuat.
  4. Konten Tidak Nyambung yaitu konten yang tidak memiliki hubungan elemennya, misalnya antara judul berita, foto dan isi berita.
  5. Konten tiruan yaitu konten yang seolah olah berasal dari lembaga/ situs berita yang sah padahal bukan.
  6. Konteksnya salah yaitu informasi benar yang disebarkan dengan konteks yang berbeda.
  7. Manipulatif yaitu konten yang dibuat dengan memodifikasi foto atau video sehingga memiliki makna berbeda dari aslinya.
Kita tentunya harus benar benar bisa memilih dan memilah informasi dengan benar, karena hoaks bisa berakibat serius. Bukan hanya kebingungan dalam masyarakat, hoaks juga dapat mengakibatkan polarisasi dan berkurangnya toleransi. Bahkan hoaks juga dapat mengakibatkan kehilangan nyawa yang tidak sedikit.

Saat ini ada lebih dari 900 situs abal abal penyebar hoaks, menurut data dari Kominfo. Situs situs tersebut ada yang memiliki nama sendiri tapi ada juga yang menyerupai situs yang asli.

Cara mengidentifikasi situs abal abal:

  1. Cek alamat situsnya, bisa menggunakan who.is atau domainbigdata.com. Perusahaan pers yang benar pasti memiliki Badan Hukum, redaksi dan alamat.
  2. Cek data perusahaan di Dewan Pers.Hal ini bisa dilakukan dengan membuka https://dewanpers.or.id/data/perusahaanpers. Perlu di catat ada beberapa media kredibel yang belum berbadan hukum.
  3. Perhatikan detail visual, bisa dengan cek url situs yang asli, bedakan logo yang asli dan aspal.
  4. Perhatikan iklan. Iklan media abal abal biasanya berlebihan dan segala macam iklan masuk.
  5. Perhatikan ciri pakem media. Situs asli memiliki ciri yang pasti seperti font, struktur dan peletakan. Media asli juga menyertakan nama penulis dengan jelas, tanggal terbit dan sumber yang jelas.
  6. Cek About Us : Media abal abal biasanya tidak dilengkapi dengan About us yaitu dilengkapi alamat, email dan nomor telepon. Dan juga mencantumkan Pedoman Pemberitaan Media Siber.
  7. Waspadai judul sensasional. Situs yang asli lebih memilih bahasa yang tidak berlebihan.
  8. Cek ke situs media mainstream apakah juga memuat berita yang sama atau tidak. Jika iya cek juga bagaimana situs media mainstream melaporkan.
  9. Cek foto utama berita di google reverse image search. Media abal abal biasanya mencuri foto dari situs lain.

Setiap berita baik itu melalui media ataupun tidak biasanya selalu melampirkan foto sebagai pelengkap. Kita dapat memverifikasi foto tersebut apakah sesuai dengan berita atau tidak dengan memperhatikan nama gedung, nama toko, bentuk bangunan, nama jalan, tulisan tulisan yang ada, bahasa, huruf yang digunakan, tugu atau monumen dan lain lain yang dapat mencirikan suatu tempat atau masa tertentu.

Berikut ini tools yang dapat digunakan untuk memverifikasi foto:
  1. Reverse Image dari Google yang dapat digunakan untuk mencari website pengunggah pertama foto tersebut.Tools ini juga berguna untuk menelusuri foto foto yang diunggah di internet.
  2. Reverse Image dari Yandex yang merupakan search engine dari Rusia. Yandex ini sangat bagus untuk menelusuri foto terutama dari daerah Eropa Timur.
  3. Reverse Tineye yang memiliki kelebihan berupa filter berdasarkan urutan waktu.
  4. Bing yaitu situs pencari milik Microsoft
  5. Baidu yaitu situs pencari website, foto dan file audio dari China.
Selain menggunakan kelima search engine diatas secara satu persatu, ada satu langkah praktis yang bisa dilakukan dengan menggunakan eskstensi browser seperti RevEye yang bisa dipasang di Chrome maupun Firefox.

Melalui Reveye yang memiliki logo gambar mata ini hanya dengan mengklik kanan foto maka akan muncul pilihan mencari gambar di situs mana. Apakah google, yandex, bing, TinEye atau Baidu. Bahkan Anda bisa mencarinya sekaligus dengan memilih opsi semua mesin pencari atau All Search Engines.

Selain foto, kita juga dapat melakukan verifikasi video. Ada dua langkah dalam memverifikasi video yaitu :

1. Menggunakan kata kunci untuk mesin pencari atau media sosial.
Tonton video dengan seksama sampai selesai. Temukan hal hal di dalam video yang bisa dijadikan petunjuk. Misalnya bangunan/gedung, bahasa yang digunakan, dialek, tulisan, nama jalan, dan lain lain. Lalu gunakan petunjuk tersebut sebagai kata kunci pencarian.

2. Dengan fragmentasi video.
Fragmentasi video ini dapat dilakukan dengan menscreenshoot video kemudian mencarinya di Image reverse tool. Atau dengan menggunakan tool InVid yang memiliki kelebihan dapat memfragmentasi video sekaligus mencarinya di reverse image tool sekaligus. Tool ini juga dapat memfragmentasi video melalui tautan media sosial maupun file lokal sekaligus memeriksa metadata dan analisis forensik foto.



Akhir akhir ini ini kita juga banyak disuguhi berita yang benar maupun salah yang menyebar dengan luas dan cepat (infodemik) tentang pandemi. Ada 3 hal yang bisa dilakukan untuk melawan infodemik ini yaitu : Platform digital harus lebih akuntable, pelacakan dan verifikasi mis dan disinformasi serta peningkatan litersi digital di masyarakat.

Menurut data Mayarakat Anti Fitnah Indonesia, info hoaks mengenai kesehatan pada tengah tahun pertaama 2020, naik dari 7% menjadi 56 % yaitu sebanyak 519 kasus dimana 94% diantaranya sudah diverifikasi oleh Mafindo. Sedangkan Kominfo hingga Maret 2020 mencatat ada 1471 hoaks terkait covid tersebar di berbagai media.

Mis/Disinformasi mengenai kesehatan ini memiliki dampak serius diantaranya:
  1. Munculnya kebingungan dan kepanikan di masyarakat
  2. Munculnya tidak percayaan terhadap pe,erintah dan otoritas kesehatan.
  3. Sikap apatis yang menimbulkan konsekuensi besar seperti membahayakan kesehatan, mempengaruhi orang lain bahkan kematian.
Oleh karena itu jika membaca berita tentang kesehatan kita harus mampu menganalisa apakah berita tersebut benar atau hoaks.

Cara cek Fakta Kesehatan

  1. Cek sumber aslinya. Informasi yang diterima harus ada sumber aslinya, jangan cuma katanya.
  2. Baca keseluruhan baerita, jangan cuma baca judul. Karena bisa saja judul hanyalah klik bait.
  3. Identifikasi penulis dengan menelusiri nama penulis melalui mesin pencari. Apakah nama tersebut kredibel ayau tidak.
  4. Cek tanggal berita, apakah merupakan berita terbaru. Masih relevan atau tidak dengan kondisi terkini.
  5. Cek bukti pendukung lain, bisa berupa sumber berita kredibel lain yang mendukung fakta.
  6. Cek Bias, periksa juga apakah pendapat pribadi Anda sendiri mempengaruhi penilaian terhadap berita tersebut dapat dipercaya atau tidak
  7. Cek berita melalui organisasi pemeriksa fakta. Di Indonesia ada Cek Fakta dari Tempo sedangkan untuk internasional ada AFP Factcheck dan Washington Pos Factcheckers.
Ada beberapa tools dan teknik dasar yang bisa digunakan untuk cek fakta kesehatan, diantaranya :
  1. Sumber terpercaya misalnya : Web resmi WHO, Kominfo, Kemenkes, IDI, BPOM dan Jurnal Ilmiah seperti : The New England Journal of Medicine, The British Medical Journal dan The Lancet.
  2. Study Peer Review dan Pre-Print. Peer review adalah studi penelitian yang sudah melewati proses verifikasi dari tim yang memiliki keahlian yang sama. Sedangkan Pre Print belum melalui proses review.
  3. Studi koralasi sebab akibat yaitu studi yang mengukur derajat keeratan antara sebab dan akibat untuk meneliti pola kausalitas suatu variabel tehadap variabel lain. 
Menyaring berita yang kita terima memang sudah seharusnya, namun jika mencari kebenaran berita tersebut cukup menyita waktu, kita bisa langsung mencari kebenarannya di organisasi pemeriksa fakta, seperti kanal CekFakta yang ada di situs Tempo.Co. Kanal ini berisi tentang verifikasi berita yang beredar di masyarakat.

Ada 5 jenis penilaian di kanal CekFakta Tempo yaitu :
  1. Benar : Berdasarkan semua sumber yang ada, berita ini akurat
  2. Sebagian benar, berdasarkan informasi yang dapat diakses publik berita tersebut sebagian benar.
  3. Tidak terbukti. Berdasarkan bukti yang diperoleh, berita tersebut tidak dapat disimpulkan akurat atau tidak
  4. Sesat apabila data dan fakta yang digunakan benar namun penyampaian dan kesimpulannya mengarah ke tafsir yang salah.
  5. Keliru jika semua bukti dan fakta menunjukkan bahwa info tersebut tidak akurat.
Nah, kita sebagai masyarakat yang sudah mendapatkan informasi mengenai bagaimana cara mengecek berita yang beredar, mari kita membantu semampu kita meredam beredarnya berita yang tidak akurat. Baik dengan menginformasikan cara mengecek berita yang benar maupun menunjukkan situs situs yang dapat melakukan verifikasi berita seperti Cek Fakta dari Tempo.co.

*Materi yang saya tulis berdasarkan pengalaman mengikuti pelatihan tentang Cek Fakta Kesehatan di Tempo Institute.*

facebook

twitter

pinterest

linkedin

You Might Also Like

97 comments

  1. Masalahnya yang saya lihat di kampung saya, mereka ini justru malas mengecek kebenaran berita yg sudah tersebar. Jadi main percaya atau share lagi aja gitu... Maklum pemahaman masyarakat kelas bawah tidak seintelek orang berpendidikan

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget teh, orang awam cenderung malas untuk mengecek suatu berita itu bener atau hoaks

      Hapus
    2. Dengan adanya pemahaman ini insyaallah saya bisa tercerahkan, dapat ilmu dan bisa sharing lagi dengan masyarakat sekitar. Meski jujur itu tidak mudah soalnya mereka yaitu tadi, udah merasa yakin dengan berita yg didapat dari Sosmednya

      Hapus
  2. Berita hoaks emang nyebelin dan sedihnya mengapa harus ada di grup WA keluarga? Jadi meresahkan.

    Makasih Kak udah dikasih tahu cara mengecek berita itu valid atau hoaks.

    BalasHapus
  3. Lonjakan berita hoax meningkatnya tajam sekali ya. Kalo kita ga bs menangkal ya kita akan dibodohbodohi oleh pembuat hoax itu. Ayo lawan hoaq.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget, kita bakalan jadi bahan tertawaan pembuat hoak...

      Hapus
  4. Berita hoaks yang tidak dicek dan ricek kebenarannya benar-benar dapat menyesatkan kita yg membacanya ya. Sekarang untung ada Tempo dan aplikasi untuk mengecek kebenaran foto dan video dari berita yg bertebaran di medsos.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, kalau tidak sempat mencari kebenarannya sendiri mending mencari tahu lewat media pencari fakta, cekfakta dari Tempo salah satunya

      Hapus
  5. Selalu berusaha nerapin sharing sebelum sharing, kalo aku, sih. Terus banyak baca berbagai sumber. Apalagi sebagai blogger dan sering nyetatus di medsos.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget, kudu mencari dari berbagai sumber biar yang kita bagikan itu valid

      Hapus
  6. Kalau WAG keluarga malah jarang daku menemukan share berita aneh². Malah yang ada di WAG pertemanan.

    Dari judul memang udah kelihatan hoaks ya. Tinggal ke diri kitanya gimana

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau jeli memang dari judul aja udah ketahuan yaaa

      Hapus
  7. Kalau dapat info dari forward WA, langsung suudzon, jangan-jangan itu hoax :))), tapi kalau yang seliweran di medsos, biasanya cocokin di web, kayaknya ada web dari kominfo atau turnbackhoax kalau gak salah, bisa cek infonya. Web yg di share di atas baru tau nih, mau coba buat cocokin info yang beredar

    BalasHapus
  8. banyaknya hoaks yang beredar di masyarakat membuat kita harus punya kemampuan buat cek fakta ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agar hoaks ga tersebar lebih luas lagi, cukup cek dan ricek ya mba. Selain itu untuk menjaga kewarasan pikiran agar tak 'termakan' hoaks.

      Hapus
    2. iya, paling tidak pernah mencoba yaa

      Hapus
  9. Ternyata ada 5 penilaian ya mba. Wahh aku baru tau. Sekarang ini akhir zaman, susah menilai mana yg benar dan yg salah. Hikzzz.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ada 5 kriteria, kira kira yang kebanyakan viral masuk kriteria mana nih?

      Hapus
  10. Sekarang sudah banyak situs yang bisa melakukan pengecekan ya Mbak, apakah itu hoax atau bukan. Kudu pinter-pinter menyaring beritanya nih. Bismillah ya semoga kita semua selalu dilindungi dengna berita yang baik-baik aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiin, semoga kita juga dapat memipah berita. Mana yang baik dan mana yang salah yaa

      Hapus
  11. Acara keren nih beruntung bisa ikut acara ini ya banyak ilmu yang bisa didapat...mudah2an bisa terus menyebarkan ilmunya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, makanya ku tulis semua di sini. Sayang kalau aku simpan sendiri

      Hapus
  12. Kadang juga banyak foto yang digunakan untuk ilustrasi suatu berita tapi sebenarnya bukan foto kejadian sebenarnya. Ternyata da tool buat ngeceknya ya.

    BalasHapus
  13. berita hoaks itu bisa memecah belah kita, makanya selalu cross cek dahulu saat menerima berita, apalagi ingin berbagi informasi berita kudu benar2 valid dulu baru boleh share..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, jangan sampai kita turut menyebarkan hoaks meskipun tanpa kita sengaja

      Hapus
  14. Nah ini yang penting banget untuk diketahui oleh semua orang
    Gak semua informasi yang kita terima bisa ditelan mentah-mentah
    Semua harus cek ricek. Terimakasih ya info verifikasi datanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, kalau gak mau rinet langsung ke kanal yang tersedia aja...

      Hapus
  15. terima kasih kak untuk informasinya kebetulan banget beberapa dair teman termasuk keluarga banyak kebingungan mengenai berita benar atau salah, harusnya dengan melakukan pengecekan situs berita jadi tahu mana yang hoax mana yang bukan

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, kalau mau yang lebih praktis langsung ke kanal cekfakta aja...

      Hapus
  16. Yang aku sedih itu berita di wag Trah keluarga kak dimana isinya orang-orang sepuh. Berita dimakan mentah-mentah Kita yang muda ini boro-boro mengingatkan malahbkrns marah karena nggak but seperti yang mereka mau... Huhuhu sedih kan

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah iya susah sekali kalau sama yang sepuh sepuh ini, mau dibiarkan kok ya kasian...

      Hapus
  17. Apalagi pandemi gini mba. Entah udah berapa banyak berita hoax yang tersebar di wag, dan sosmed. Aku sampai gerilya membenarkan kalau aku sempat baca tulisan yg ga bener. Yang sedih itu si penulis bahkan ga percaya sama Who, BPOM, kemenkes, lha terus gimana kalau gitu? Hoho mereka lebih percaya sama situs abal2 yg ga jelas

    BalasHapus
    Balasan
    1. serba salah ya mbak, kalau mereka diingatkan ibaratnya sama dengan ngajak perang. Dibiarin kok ya kasian...

      Hapus
  18. Biar lebih yakin dengan suatu berita memang kudu cek n ricek ya mba. Jgn asal percaya yg ujung-ujungnya ternyata berita hoaks. Cek fakta yg penting dr sumber yg valid.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, lebih praktis kalau lewat kanal yang sudah tersedia...

      Hapus
  19. setujuu bangeet. udah mendingan ga usah konsumsi berita yang ada "diteruskan berkali-kali" via WA dan rutin bacanya dari website media yang terpercaya ajaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa... lebih sehat kalau begitu daripada kitanya kesel sendiri...

      Hapus
  20. Bener banget nih..kita harus baca dulu semuanya..bukan cuma judul dan aal paragraf.. Gak sedikit yang share dan komen dulu sebelum tahu persis isinya apaan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, padahal judul sama isi gak nyambung yak/...

      Hapus
  21. Kebanyakan itu dari WAG keluarga pasti banyak berita hoax yang disebar. Saya sampai lelah jelasin di grup tentang berita yang dishare mereka. Kasih penjelasan malah saya diserang balik. Hahaha.

    Jadi, daripada saya sakit hati, kalau ada berita gitu, saya skip aja. Seringnya langsung report nomor yang ngeshare. 🤣🤣

    Mari kita ramaikan gerakan Turn Back Hoax.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sama... mana susah banget kalau ngejelasin pada yang sepuh sepuh, jadi geregetan sendiri...

      Hapus
  22. Bener banget nih apalagi para sesepuh nih yang suka share tapi sumbernya gatau hihi

    BalasHapus
  23. Sebenernya tools untuk ngecek validitas tuh tersedia ya mba
    hanya saja mayoritas dari kita engga tau...atau kalopun tau, yo MALES buat cek n ricek :D
    Literasi juga masih rendah, jadi yahhh, begitulah

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa... lebih banyak yang males dan gak ambil pusing...

      Hapus
  24. capek banget ngadepin yang doyan hoaks ya?

    Kalau di WAG, biasanya saya diemin karena bakal berakhir gak enak

    saya benerin via status facebook karena teman di WAG= facebook

    saya harap mereka sadar sudah termakan hoaks :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah cara seperti itu lebih halus ya Ambu, daripada enggak enak ati sama yang bersangkutan...

      Hapus
    2. Terutama di WAG keluarga ini yang paling banyak Hoax, diedukasi malah ga paham, ya udah diemin dan keluar grup aja, malas debat.
      Semoga mereka diberikan kesadaran agar ga sembarangan memberikan info apalagi soal kesehatan

      Hapus
  25. Penting banget para warganet tahu jenis2 hoaks dan cara mengidentifikasinya. Biar enggak gampang menyebarkan dan berkelit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya emang ngeselin kalau ketemu netizen yang suka ngeles kayak bajaj...

      Hapus
  26. Wah berita hoax itu makin marak aja ya, sedih banget hehe..kadang di group WA keluarga juga ada salah satu keluarga yang nyebar hoax...pengen nasihatin tapi umurnya lebih tua dari kita... hehe, serba bingung dong kalo sudah begini...hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. serba salah tapi kasihan ya Pak... sakrepotan memang...

      Hapus
  27. Biasanya di permalink atau tumbnail udah kelihatan mengarah ke hoax atau nggak. Jadinya daku gak mau klik, paling cari sumber yang benarnya buat merespon

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak... semakin di klik, semakin seneng yang buat hoaks...

      Hapus
  28. Berita hoax makin marak, terkadang temen sendiri suka kirim link ke WA, padahal itu hoax. Jadi sekarang mah mesti hati hati deh apalagi terkait dengan data pribadi

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, kalau data pribadi jangan sampai kesebar bu, bahaya...

      Hapus
  29. Betul banget Mbak. Kita harus pintar-pintar saring informasi sebelum disebar. Karena memang sejak ada WA Group ini, informasi memang sangat mudah dan cepat tersebarnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya cepet banget, padahal belum tentu kebenarannya...

      Hapus
  30. Nah bener ini mbak, kebanyakan grupkeluarga ini yang paling banyak hoaks. Ibu saya aja sampai percaya banget tuh mba. Akhirnya saya bilang aja itu boong

    BalasHapus
  31. iya ih..suka sebel kalau banyak yg nyebar hoax di WAG. sudah gitu klo diingatkan ngeles klo cuma nyebar saja..lha sudah tahu blm ngerti bener/tidaknya kok ya main sebar saja.. Trims sharingnya mba, bisa jadi tujuan utk cek kebenaran berita2 yg kita terima..

    BalasHapus
    Balasan
    1. ngeles tanpa rasa bersalah ya... hihihi, banyak banget yang kayak gitu...

      Hapus
  32. ngomongin HOAX di WAG mah jangan tanya mba. banyak bangeeeett. dan herannya banyak yang langsung percaya, khususnya ortu2 jaman dulu yang baru ngerti WA. huhu..baru tau aku, bisa ngecek keaslian berita lewat who.is..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, bisa ngecek web tersebut abal abal atau enggak

      Hapus
  33. Di saat pandemi begini, saya capek banget dengan banyak hoax. Berasa banget parahnya, ya. Padahal mendingan usaha sedikit untuk mencari kebenaran suatu berita. Daripada langsung telan mentah-mentah

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya paling enggak mau cari di kanal yang sudah tersedia, lebih praktis dan gak menghabiskan waktu...

      Hapus
  34. Pernah banget terima hoask dia wags apalagi di grup ibu2 RT tetangga. Bingung kalau mau menyanggah, tapi kalau udah tau cara cek fakta jadi ada bukti. Lewat reverse image bisa ngecek juga ya kebenaran sebuah foto

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah iya, link dari cekfakta bisa dijadikan bukti. Biar mereka enggak segampang itu nyebar berita yang enggak jelas...

      Hapus
  35. Ternyata cek cek video ada juga cara nya tho mbak. Baru tahu donk aku. Aku nih termaasuk yg kesal bgd sama berita bohong.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada mbak, samaa... kesel juga sama yang nyebar tanpa rasa bersalah...

      Hapus
  36. Berita hoax ini bagaikan gosipan ya..
    Kalau sekalinya viral dan bikin heboh, langsung muncul dimana-mana. Ini sungguh membuat resah banyak pihak, terutama orangtua yang baru mengenal dunia digital.

    Edukasi yang bagus sekali bahwa ketika membaca berita kudu jeli dan teliti mengecek kebenarannya dahulu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, hanya saja masih banyak yang malas melakukannya. Tapi kehadiran kanal kayak CekFakta ini memang ngebantu banget...

      Hapus
  37. Ah iya harus berhati-hati banget sekarang dengan gempuran inforamasi yang tidak jelas ini ya... Kalau engga nanti jatuhnya bisa jadi fitnah deh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya teeh... jangan sampai kita ikutan nyebar yang gak jelas...

      Hapus
  38. Nah iya benar mba banyak aja yang masih terkecoh dengan adanya info eh teryata hoax. Edukasi agar semua dilakukan secara pengecekan fakta harus dilakukan

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, pakai kanal yang tersedia seperti CekFakta lebih praktis...

      Hapus
  39. Ternyata kenaikan hoaks tentang kesehatan tinggi jugaa, ya. Sedihnyaa. Yaa...paling ngga kita ikut berusaha menangkal berita hoax ya, mbak.

    BalasHapus
  40. Sering banget ada berita hoax di grup WA keluarga. Sering juga orang-orang tuh hanya menerima kabar hoax tersebut yang dianggap benar. Jadi kita memang harus baca berita tuh hati-hati banget karena saat ini banyak berita hoax yang meresahkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget, mayoritas masyarakat kita emang menelan mentah mentah berita yang diterima

      Hapus
  41. Thanks banget mbak, kumplitttt! Saya baru tahu extention chore reveye ini loh, segera aku pasang kalau uda online di laptop :)

    BalasHapus
  42. wah seru mba aku suka baca artikelnya, jadi nambah knowledge how to cek dan verifikasi video itu asli atau palsu yaa, krn memang sekarang heran deh kok hoaks tuh tumbuh subur yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena ada yang mau ambil keuntingan dari situasi yang gak terkendali mbak...

      Hapus
  43. Setuju banget mba, hoax itu bisa membunuh loh. Kita juga mesti adapt mindset yang learn, unlearn, dan relearn juga selalu karna dinamis kan segala sesuatunya di jaman sekarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener,banyak banget kejadian hoaks yang mengakibatkan kehilangan nyawa

      Hapus
  44. Pernah aku dapat sesuatu dan asal kushare. Biasanya kan ceki-ceki dulu, tapi entah kenapa ini gak. Malu banget karena itu salah. Jadi sekarang pokoknya wajib cek informasinya. Jika hoax, ya berhenti di aku

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, iya bener banget. Berita hoax berhenti di kita. Itu udah ngebantu meminimalisir penyebarannya

      Hapus
  45. Nah, kadang yang artikel sindiran atau parodi ini yang rada susah diatasi. Sebenarnya yang nulis tidak punya niat buruk, menulis dalam bentuk parodi agar lebih dapet soulnya. Tapi kadang disalahartikan oleh yang baca. Kemampuan literasi memang mempengaruhi persepsi juga ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, masih banyak yang ga paham apa itu sarkasme

      Hapus
  46. aku setujuuu banget mba.. disinformasi dan misinformasi haru benar - benar kita perangi ya mba. supaya tidak banyak hoaks

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, sesih banget banyak hoaks di sekitar kita

      Hapus
  47. setuju niihh.. memang kudu lebih selektif baca2 berita. kudu mau repot2 cek dulu, itu berita yang tersaji apakah fakta, atau hanya opini. kalau opini, perlu dicek juga, siapa yang memberikan opini.. apa orang yang berkompeten di bidangnya atau sekadar orang yang cari sensasi

    BalasHapus