Satu trik, agar anak-anak rukun

06.00.00 Retno Kusumawardani 2 Comments

kembulan makan bersama dalam satu wadah

Ibu saya selalu mengingatkan, “Suruhlah anak-anakmu makan kembulan, agar mereka rukun”. Pertinyiinnyi… apakah kembulan itu? Apakah sejenis makanan seperti kue, dodol, atau permen? Hehehe.

Kembulan, begitu orang jawa menyebut kegiatan makan bersama dalam satu wadah. Kenapa menggunakan wadah, bukannya piring? Karena masyarakat Jawa tradisional ketika makan bersama tidak hanya menggunakan piring tapi juga cobek (cowek), nampan, daun jati, daun pisang bahkan dengan menggunakan sesek. Sesek adalah anyaman bambu yang berbentuk segi empat datar.


Kembulan tidak hanya dilakukan di dalam rumah, namun juga dilakukan dalam kegiatan warga. Misalnya waktu saya kecil dulu, tiap awal puasa selalu membawa nasi dan lauk-pauk ke Musholla. Setelah sholat Maghrib, berdoa bersama dan tausyiah dari ustad biasanya kami makan bersama nasi dan lauk yang kami bawa dari rumah. Kami tidak memakan nasi yang kami bawa sendiri. Melainkan nasi orang lain yang juga dibawa ke Musholla. Kemudian makan bersama-sama dengan kembulan. Setelah makan, dilanjutkan dengan bersih-bersih sambil menunggu waktu sholat Isya.

Beda dulu beda sekarang. Mungkin karena beda tempat juga. Saya sekarang tinggal di kecamatan yang letaknya jauh lebih “kota” dari rumah saya dulu. Di tempat tinggal saya sekarang ini, kalau membawa nasi ke Musholla, setelah sholat maghrib, baca doa lalu nasi di bawa pulang. Tidak ada acara kembulan seperti jaman saya masih kecil dulu.


Namun demikian, saya masih menerapkan makan secara kembulan pada anak-anak saya. Karena menurut saya eh Ibu saya ding,  kembulan itu memiliki segudang manfaat, diantaranya :

·        Belajar berbagi. Dengan makan bersama dalam satu wadah ini, mengajarkan anak untuk saling berbagi.
·        Lebih rukun. Setelah bermain bersama lalu ribut soal mainan, coba deh anak-anak disuruh makan kembulan. Pasti rukun lagi.
·        Menumbuhkan kasih sayang. Dengan saling berbagi, masing-masing anak semakin merasakan rasa kasih sayang yang diberikan oleh saudaranya.
·        Belajar bersikap nerimo (ikhlas). Misalnya ketika membuat telur ceplok, salah satu ada yang kuningnya pecah sedangkan yang lain masih utuh. Atau telur dadar ada yang sobek. Menurut pengamatan saya  (halah…) ketika salah satu anak saya mood-nya sedang jelek, tentu dia mengharapkan makanan sesuai dengan yang diinginkannya. Untunglah salah satu saudaranya ada yang mau mengalah dan mau bertukar lauk. Dan ini mereka lakukan secara bergantian. Alhamdulillah…
·        Belajar menyukai makanan baru. Anak bungsu saya tidak suka ayam baik berupa ayam goreng maupun yang telah berubah bentuk menjadi nugget. Alhamdulillah, berkat kembulan dia mau mencoba makan ayam goreng. Meskipun sekarang dia masih angin-anginan, kadang suka mau kadang tidak tapi masih lebih baik daripada dulu, tidak mau makan ayam sama-sekali.
·        Makan banyak tak terasa. Kadang anak susah kalau disuruh untuk makan. Namun ketika makan dengan kembulan, maka rasa nikmat itu akan bertambah. Dan tanpa mereka sadari mereka telah makan banyak tanpa dipaksa.

Nah, itulah beberapa manfaat kembulan yang sudah saya rasakan. Saya bersama kakak-kakak saya dulu juga sering makan kembulan. Karena menggunakan piring kurang besar, maka yang kami pakai adalah cobek. Bahkan ada yang lebih ekstrim lagi yaitu wajan. Hehehehe…. Biasalah, Ibu dulu suka masak sayur lodeh nangka muda, kami menyebutnya jangan tewel. Sengaja kuah disusutkan sampai habis, lalu sayur diberi minyak sedikit dan digoreng diatas wajan. Nah, ketika sayur hampir habis, tinggal tambahkan nasi hangat ke dalam wajan, tambahkan juga lauk dan sambal. Langsung deh kami makan beramai-ramai. Tak terasa, nasi sebakul langsung habis hihihi.

Semoga sifat positif yang dipupuk melalui kembulan ini dapat dibawa terus oleh anak-anak sampai dewasa nanti. Dan manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh saudaranya tapi juga oleh orang lain di sekitarnya. Aamiin.


Well, setuju dengan pendapat saya mengenai manfaat makan kembulan ini? Mari berbagi agar orang lain juga terinspirasi.

You Might Also Like

2 komentar:

  1. waah, seneng kalau masih ada kegiatan seperti ini..
    terutama bersama warga. aku kangen hal itu, di tempatku sudah tidak ada lagi :(

    BalasHapus