Mencegah post power syndrome

05.00.00 Retno Kusumawardani 0 Comments

Mencegah post power  syndrome

Akhir-akhir ini di media sosial ramai sekali dengan istilah Post Power Syndrom. Gara-gara ada beberapa orang Bapak mantan nganu yang mengeluarkan statemen bernada nganu, sehingga beberapa orang menganggap para Bapak ini nganu. Nganu yang terakhir maksudnya Post Power Syndrom….wkwkwk. Saya sih tidak akan membahas statement bapak-bapak ini karena saya tidak punyai kapasitas yang cukup nganu untuk menganalisa pernyataan mereka. Saya hanya akan sedikit membahas tentang post power syndrome.

Post power syndrome dapat menyerang siapa saja, baik pensiunan pejabat kelas kakap ataupun pegawai kelas teri ( dua-duanya sama-sama enak, apalagi kalo lalap pete…wkwkwk apasih…). Hampir setiap orang yang sebelumnya melakukan pekerjaan dengan rutin dapat menderita post power syndrome ini. Kebanyakan penderita tidak menyadari bahwa mereka menderita post power syndrome. Namun gejalanya dapat dirasakan oleh orang-orang disekitarnya. Gejalanya dapat berupa perubahan fisik, emosional maupun perilaku.

Yang biasanya tampak segar dan ceria tiba-tiba berubah menjadi kuyu. Karena beban psikis menjadi mudah sakit-sakitan. Yang biasanya bisa menjadi pendengar yang baik dan mampu menelorkan ide yang brilian tiba-tiba berubah menjadi mudah tersinggung dan tidak mau menerima saran orang lain. Yang biasanya begitu bersemangat dalam hidup tiba-tiba menjadi pemurung dan tidak berselera makan. Bahkan orang yang terlalu berapi-api dalam menceritakan segala sesuatu tentang masa lalunya juga terindikasi menderita gejala post power syndrome.

Mencegah post power syndrome
Sbr :kisah islam.com

Nah, dari sini kita semua mendapat gambaran bahwa post power syndrome adalah semacam gangguan psikis berupa bayangan masa lalu yang selalu muncul akibat ketidak relaan diri dalam menghadapi kehidupan yang sekarang dijalani.

Ada beberapa tips yang bisa diterapkan agar tidak mengalami gangguan ini. Tips ini bisa digunakan oleh semua orang, bukan saja para pegawai yang mendekati masa pensiun tapi juga untuk pimpinan organisasi, ketua RT, pak Lurah bahkan Ketua Kelas di sekolah yang akan mendekati masa akhir jabatan.

Apa saja sih tips yang bisa dilakukan :

1.      Sadar diri bahwa kita ini bukan siapa-siapa
2.      Menyadari bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini semua sifatnya sementara.

3.      Mempersiapkan diri, bahwa sebentar lagi masa jabatan akan berakhir.


Saya yakin, siapa saja pasti menyadari bahwa setiap jabatan itu akan ada masa berakhirnya. Bedanya ada yang bisa menerima dan ada pula yang menyangkalnya. Dan pada masa-masa mendekati akhir masa jabatan ada sebagian orang yang mempersiapkan diri dan ada sebagian pula yang memanfaatkannya, aji mumpung begitu orang jawa bilang.

Berbahagialah bagi orang-orang yang menyadari bahwa jabatan itu hanya sementara karena begitu masa jabatannya habis, mereka akan menikmati hari-harinya dengan bahagia. Berbahagialah para Bapak Ibu yang mendekati masa pensiunnya telah melakukan persiapan terlebih dahulu, pasti beliau-beliau menjalani masa tua dengan penuh kesyukuran dan bahagia.


Saya sendiri belum pernah mengalami, baik masa kerja atau masa-masa akhir jabatan sebuah organisasi (karena saya dari dulu biasa-biasa aja, dan tidak pernah jadi apa-apa hehehehe) namun saya akan berbagi pengalaman Bapak saya terhindar dari Post Power Syndrom.

37 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk mengabdi. Menjadi guru di daerah pegunungan kemudian meningkat menjadi kepala sekolah. Jarak sekolah yang jauh melewati jalanan yang waktu itu masih makadam dengan batu sebesar kepala orang dewasa sudah biasa dilalui oleh Bapak. Kalau musim hujan jalanan menjadi licin dan “jeblog” kalau orang jawa bilang. Namun Bapak tidak pernah mengeluh.

Pada pagi hari mengabdi di Sekolah Dasar, sorenya Bapak mengajar di SMP dan SMA swasta yang ada di daerah kami. Yang namanya sekolah di desa, waktu itu tenaga guru masih terbatas, maka Bapak terbiasa mengajar berbagai macam mata pelajaran tergantung kebutuhan. Namun yang paling utama adalah mengajar bahasa Inggris.

Begitulah rutinitas bapak sehari-hari, mengajar dari pagi sampai sore hari. Rutinitas yang dijalani sampai puluhan tahun. Dan yang paling lama adalah menjadi Kepala Sekolah SD. Tahu sendiri lah, yang namanya Kepala Sekolah itu banyak sekali tanggung jawabnya. Banyak yang dipikirkan, mulai dari gedung sekolah, siswa sampai guru bahkan  menghadapi wali murid pun menjadi tugas kepala sekolah.

Beberapa tahun menjelang masa pensdiun, Bapak mengajukan diri menjadi Penilik Dikmas, yang tugasnya waktu itu berhubungan dengan Pendidikan Luar Sekolah. Misalnya mengenai pemberantasan buta huruf, kelompok belajar paket A, Kelompok belajar paket B dan lainnya.

Salah satu tugas Bapak adalah mendata ada berapa warga buta huruf dan putus sekolah yang ada di wilayah kerja Bapak. Bisa saja Bapak hanya ongkang-ongkang di rumah dan menyulap angka-angka yang ada di tabel. Tapi itu tidak dilakukan oleh beliau. Satu persatu RT, Kepala Desa beliau datangi untuk mendapatkan data. Padahal yang namanya Malang Selatan waktu itu jalannya waduuuh… parah. Belum ada aspal, jalannya naik turun bukit dan tentu saja licin sekali kalau sedang musim hujan.
Ketika saya tanya, mengapa Bapak memilih menjadi Penilik Dikmas waktu itu. Beliau hanya menjawab bahwa tanggung jawabnya lebih sedikit. Hanya bertanggung jawab pada pekerjaan saja, tidak bertanggung jawab terhadap orang banyak seperti ketika menjadi kepala sekolah.

Belakangan saya baru tahu bahwa Bapak memilih menjadi Penilik pada waktu itu adalah untuk mempersiapkan masa pensiun beliau. Dengan menjadi penilik Dikmas, secara otomatis jam berkantor juga berkurang karena harus turun ke lapangan untuk mencari data. Terkadang pekerjaan bisa dilakukan dirumah, dan hasilnya langsung disetorkan ke Kabupaten. Dan akhirnya setahun sebelum masa pensiun resmi tiba, Bapak sudah mengajukan diri untuk pensiun dini karena sudah merasa siap lahir dan batin.

Pada masa itu tentu ada masa-masa dimana Bapak “galau” kalau memakai istilah sekarang. Apa yang akan dilakukan nanti pada saat pensiun. Beruntung ibu selalu ada di samping Bapak dan menjadi “supporter” setia. Dukungan Ibu baik berupa sikap maupun kata-kata dapat menjadi booster untuk Bapak. Kata-kata Ibu misalnya “enak nanti kalau sudah pensiun kita bisa jalan-jalan meskipun bukan hari libur”, “kalau sudah pensiun, kita bisa sewaktu-waktu menjenguk Retno “ (waktu itu saya masih SMA dan jadi anak kos). Itulah sedikit kata-kata dari Ibu untuk selalu mendukung Bapak.



Alhamdulillah Bapak bisa menjalani masa transisi itu dengan baik. Kini Bapak sibuk dengan tanaman-tanaman di kebun. Masih ngajar juga di SMA, tapi jam mengajarnya sudah jauh lebih sedikit. Kalau dulu sebelum Bapak pensiun hasil kebun yang pasti adalah pisang dan kelapa, karena kedua tanaman itu tidak perlu perawatan khusus. Tapi kini buah dan tanaman yang dihasilkan bapak makin bervariasi ada durian, langsat, papaya, coklat, cabai, pisang kelapa, dan alpukat.

Kalau sedang ada panen buah, coba tebak siapa yang paling senang? Tentu saja sayaaaa hehehehe lumayan kan anggaran beli buah bisa masuk kantong lagi wkwkwk dasar emak irit.


Nah, sudah terbukti kan kalau Post Power Syndrom dapat dicegah? Hanya dibutuhkan kesadaran diri dan dukungan orang-orang terdekat. Semoga kita semua dapat terhindar dan bisa menjadi pendukung bagi orang orang yang kita sayangi….aamiin

You Might Also Like

0 komentar: