Berkunjung ke Landasan Udara Abdulrahman Saleh bersama TK ABA

19.46.00 Retno Kusumawardani 0 Comments

Lanud Abdulrahmansaleh musium A.Sulaksono puncak tema TK ABA
Musium Dirgantara Albertus Sulaksono


Pagi ini duo krucilku yang masih bersekolah di TK bersemangat sekali. Karena akan ada acara puncak tema dari sekolahan. Kegiatan puncak temanya adalah berkunjung ke Lanud Abdulrahman Saleh di Malang. Kebetulan tema yang dipelajari adalah tentang kendaraan.

Hari-hari biasanya duo krucilku ini penuh drama apabila diminta bersiap berangkat ke sekolah. Yang inilah, yang itulah. Beda dengan kakaknya yang sudah kelas dua SD yang selalu bangun pagi dan tak pernah terlambat. Semoga saja, nanti kalau sudah masuk sekolah ke jenjang berikutnya mereka bisa berubah hihihi.

Saking semangatnya, sebelum pukul 06.30 saya dan anak-anak sudah sampai di sekolah. Keadaan sudah ramai meskipun belum datang semuanya. Segera anak-anak masuk ke sekolah. Sedangkan saya bersalaman dengan ibu-ibu wali murid yang bergerombol di luar pagar sekolah.

Kira-kira pukul 07.00 anak-anak sudah berbaris untuk naik ke kendaraan. Saya kebetulan menjadi wali murid pendamping kelompok B-2 bersama mama Auna. Sebelum berangkat kami mendapatkan informasi bahwa dua orang anak sedang tak enak badan dan seorang lagi baru saja muntah-muntah. Mungkin karena terlalu banyak gerak, padahal perutnya terisi penuh setelah sarapan. Dan ada beberapa anak yang biasanya mabuk kendaraan.

Diatas kendaraan, anak- anak yang biasanya mabuk kendaraan duduk di depan bersama Bu Ely. Sedangkan yang lain duduk di belakang. Bu Suniti duduk di deretan belakang supir, Mama Auna duduk di deretan belakangnya. Sedangkan saya sendiri memilih duduk di pojok kanan belakang. Agar mudah mengawasi anak-anak yang duduk di dekat jendela samping kanan. Masing-masing deretan bangku dibekali beberapa kantung plastic takut kalau tiba-tiba ada yang mabuk kendaraan.

Di perjalanan, secara bergantian Bu Suniti dan Bu Eli mengajak anak-anak bernyanyi. Tidak lupa Bu Suniti bermain sambung ayat surat An Naba bersama anak-anak.  Hebat lho anak-anak B-2  sudah hafal surat AN-NABA’ yang panjangnya 40 ayat (terima kasih Bu Guru, semoga menjadi amalan yang berkah…Amiin).

Jalan raya padat merayap meskipun tidak sampai macet. Anak-anak yang tidak sabaran banyak yang bertanya “kok lama?”, “mana pesawatnya kok tidak kelihatan?”. Untuk menghibur mereka sayapun cuma meminta mereka untuk sabar karena sebentar lagi sampai.

Berkunjung ke Musium Dirgantara A. Sulaksono

Ketika sampai di pangkalan militer Abdulrahmansaleh kami segera menuju Musium dirgantara Albertus Sulaksono. Setelah berbaris dan mendapat pengarahan dari bapak yang bertugas, anak-anak didampingi para guru dan wali murid pendamping memasuki museum. Museum ini berisi tentang sejarah Lanud Abdulrahman Saleh. Didalamnya terdapat berbagai macam replica pesawat terbang yang digunakan di landasan udara ini. Ada juga deretan foto-foto mantan komandan Lanud dari masa ke masa. Dan berbagai perlengkapan penerbangan lainnya.

di dalam musium A.Sulaksono


Museum terasa penuh sesak karena kebetulan kami bersamaan dengan siswa dari beberapa sekolah lainnya. Kami hanya melihat sekilas saja di dalam museum.


Mengunjungi Skuadron Teknik 022
lanud abdulrahman saleh skuadron teknik 022
Skuadron Teknik 022

Acara selanjutnya adalah mengunjungi skuadron teknik 022. Ketika akan naik ke kendaraan ternyata kendaraan untuk kelompok B-2 tidak ada. Rupanya ada yang perlu dibetulkan di bengkel. Akhirnya kelompok B-2 dibagi dua, sebagian naik di mobil sekolah dan sebagian lagi naik kendaraan kelompok A1.
Lanud Abdulrahman saleh malang, TK ABA Kepanjen
mendengarkan pengarahan di skuatek 022


Setiba di Skatek 022, kami segera masuk ke dalam hanggar. Hanggar pesawat yang luas ini adalah tempat pemeliharaan pesawat. Didalamnya terdapat sebuah pesawat Hercules dan sebuah pesawat lagi yang lebih kecil. Karena microphone dari bapak petugas tidak terlalu jelas, maka saya mendengarnya pun kurang jelas. Pesawat yang lebih kecil itu namanya apa hehehehe…maaf ya skip saja untuk yang ini.

Setelah mendapat pengarahan, dengan bergantian masing-masing kelompok diajak untuk masuk ke dalam badan pesawat. . Nampak beberapa anak takut bahkan sampai menangis dan tidak mau masuk ke dalam pesawat Hercules yang memang gelap. Untunglah kelompok B-2 anaknya jempolan semua. Meskipun ada yang merasa takut tapi mereka bisa mengalahkan rasa takut mereka. Buktinya mereka masuk semua ke dalam pesawat Hercules dan keluar dengan senyum terkembang.

Lanud Abduleahman saleh -TK ABA kepanjen
di dalam pesawat Hercules yang gelap


Lanud Abdulrahman saleh TK ABA kEPANJEN
Berpose disamping pesawat hercules

Turun dari Hercules, anak- anak berkumpul di samping pesawat dan mendapat kue dan minuman. Sambil istirahat duduk ‘delosoran’ dilantai anak-anak menikmati kue dan minuman. Setelah beberapa saat tiba-tiba datang bapak petugas yang mengatakan bahwa kami tidak boleh makan dan minum di dekat pesawat, karena khawatir kalau akan membuat kotor hanggar. Yaaah…telat Pak, makanan dan minumannya udah keburu habis. Hehehehe

Beliau juga menambahkan , agar tidak duduk di lantai karena lantainya kotor. Betul juga, setelah kami melihat celana anak-anak sudah hitam-hitam semua terutama di bagian pantat dan lutut. Yang paling parah adalah celana anak laki-laki karena memang mereka energinya berlebihan dibandingkan dengan anak perempuan.

Lanud abdulrahman saleh -TK ABA Kepanjen
Ngantri lagi untuk naik pesawat

Setelah itu kami berbaris lagi untuk masuk ke dalam pesawat yang lebih kecil. Saya tidak masuk ke dalam, hanya menunggu diluar saja.

Setelah turun, anak-anak dikumpulkan dan duduk (lagi) membentuk lingkaran. Ibu Suniti dan Ibu Ely mengajak anak-anak untuk bermain. Sungguh hebat ibu-ibu guru ini, meskipun beliau juga capek tapi seperti tak punya lelah untuk mengajak anak-anak bermain. Anak-anak pun terlihat senang. Tidak ada wajah-wajah yang kusut. Ketika di tanyakan apakah ada yang pusing, sakit perut, atau mual karena mabuk. Alhamdulillah mereka tidak ada yang mengeluh. Memang, secara bergantian kami menanyakan hal-hal tersebut kepada anak-anak. Khawatir kalau mereka mengeluhkan sesuatu tapi tidak berani mengatakan.

Perjalanan Pulang

Jarum jam hampir menunjuk ke angka sebelas ketika kami kembali naik kendaraan untuk perjalanan pulang. Untunglah kendaraan yang kami naiki ketika berangkat tadi sudah selesai dibetulkan. Lagi-lagi di dalam kendaraan, Bu Guru selalu berusaha untuk menjaga mood anak-anak dengan cara bernyanyi dan bertepuk. Capek bernyanyi, anak-anak ada yang saling bercerita, ada yang ketiduran. Bahkan ada yang bermain peran. Karena mereka duduk di sebelah saya, saya jadi tahu, ada yang jadi ibunya, anaknya dan sepertinya tadi ceritanya anaknya sedang sakit. Mereka tidak tahu kalau saya juga mendengarkan hehehe.
Lanud Abdulrahman saleh -TK ABA Kepanjen
ceria di dalam kendaraan

Nampak sekali wajah-wajah bahagia anak-anak. Bahkan yang dikhawatirkan mabuk kendaraan tidak terjadi. Jadi ingat, pada waktu masih kecil dulu saya juga sering mabuk kendaraan, pada saat mabuk rasanya tidak enak sekali. Perut rasanya seperti diaduk-aduk dan kepala rasanya berat. Karena saya sebelum naik kendaraan sudah takut mabuk duluan. Akibatnya mabuk kendaraan betulan.

Daaaan … anak- anak kelompok B-2 tadi tidak ada yang mabuk kendaraan. Itu semua tak lepas dari peran Ibu-Ibu guru. Yang seperti ‘batterai full charged’ selalu mengajak anak-anak bergembira sehingga mereka lupa kalau mereka biasanya mabuk kendaraan. Dua jempol untuk bu Guru , sebenarnya saya mau memberi jempol lebih bu, tapi sementara itu dulu ya hehehe.

Oh ya saya juga menyampaikan terimakasih dan permohonan maaf kepada mama-mama yang menitipkan anak-anak pada kegiatan puncak tema tadi. Terimakasih karena telah memberikan kami kepercayaan. Kami sama-sekali tidak membeda-bedakan meskipun anak-anak kami juga ikut dalam rombongan. Dan anak-anak pun sebenarnya merasa bangga ketika mereka diberi kepercayaan untuk berangkat sendiri tanpa di damping orang tua. Mereka merasa dianggap sudah besar, tentu saja hal ini menambah kepercayaan diri anak-anak. Terbukti tadi ada yang marah-marah ketika tahu bahwa orang tuanya datang untuk melihat. Mungkin dia merasa malu pada teman-temannya.

Sudah sewajarnya kita sebagai orang tua memiliki rasa khawatir. Tapi kekhawatiran itu jangan sampai menjadi penghalang untuk kemandirian anak kita. Karena suatu saat dia akan jadi dewasa dan jadi dirinya sendiri. Kita tidak akan selalu ada di samping mereka untuk menyelesaikan masalah mereka. Tidak salah apabila kita melatih mereka menghadapi kehidupan nyata sejak dini.

Saya menyebut dengan istilah “memberi kepercayaan kepada anak”, ketika melepas mereka untuk mengikuti kegiatan yang tidak didampingi oleh orang tua seperti ini. Dengan memberi kepercayaan, saya harap anak saya akan lebih mandiri, bertanggung jawab dan tahu bagaimana dia harus bersikap ketika menghadapi masalah. Karena jika kita mengajari anak-anak  bersikap ketika masih kecil akan menjadi bekal ketika mereka dewasa nanti. Salut deh pada mama-mama yang mengajarkan kemandirian sejak dini kepada anak-anak.

Permintaan maafnya  saya sampaikan, apabila tadi ada yang kurang berkenan. Maafkanlaaah….bacanya sambil nyanyi ya…. Hehehe.

Sesampai di sekolah, anak-anak kembali diajak masuk ke kelas untuk mendapatkan makan siang. Alhamdulillah perjalanan lancar dan anak-anak senang. Terima kasih ya Ibu-Ibu Guru, terima kasih Tk Aisyiah Bustanul Athfal sudah berbagi pengalaman yang menyenangkan dengan anak-anak kami.



You Might Also Like

0 komentar: