wadooo...wadooo...

17.59.00 Retno Kusumawardani 0 Comments

Cerpen lama...lupa belum disimpen dimari :p


Wadooo...wadooo....

Kepala itu tiba-tiba tertunduk, rupanya dia terkejut ketika tiba-tiba aku menoleh ke belakang
”Gak enak tau, diliatin seperti itu!” rutukku dalam hati.

Sudah sejak seminggu ini Aldi si kacamata itu sering melihatku diam-diam. Kebetulan tempat duduknya dibelakangku, kalau aku duduk di deret tengah, tempat duduk Aldi di deret sebelah kanan. Jadi ketika berada di dalam kelas dia bisa dengan leluasa melihat tingkah polahku.

“Kring....kring...” Untung bel istirahat berbunyi, aku terbebas dari pandangan si kacamata. Kuselesaikan catatanku yang tinggal beberapa kalimat, saking asyiknya menulis, tak sengaja siku kananku menyenggol kotak pensil hingga terjatuh ke lantai. “Ah biarlah, kuselesaikan dulu catatanku baru nanti kuambil,” pikirku.

Kemudian kudengar suara cowok yang lembut ah bukan, tapi suara cowok yang dilembut-lembutkan. “Ven,...ini kotak pensilmu tadi terjatuh, kamu gak tahu ya?” reflek aku menoleh ke kanan dan....olala sebuah wajah bulat berkacamata dengan mimik yang lugu memandangku lekat-lekat. Sepertinya dia juga hendak mengatakan sesuatu lagi kepadaku tapi suaranya tersangkut di tenggorokan. Kutahan tawaku yang hampir pecah melihat ekspresi lucu di depanku. Dan aku beruntung masih bisa mengatakan “ Terima kasih ya..” Kepala itu mengangguk pelan sambil matanya tak lepas dari wajahku.

“Veni...!!!” suara cempreng Dita mengagetkan Aldi si kacamata yang sedang tertegun memandangiku. Hatiku bersorak, untung ada si cempreng ini, aku jadi terbebas dari tatapan maut Aldi.

“Ada apa Dit?” tanyaku

“Dicari Miko, “

“Miko?”

“Iya...Miko anak kelas sebelah, ditunggu di kantin tuh”

Kulihat sekilas Aldi tampak lesu, dengan berjalan tertunduk dia kembali ke bangkunya.
“Kebetulan aku juga sudah lapar, ayo ke kantin!” ajakku pada Dita.

Sudah lama aku kenal Miko anak kelas sebelah. Anaknya sebenarnya baik,hanya usilnya minta ampun. Pernah dia menghadangku waktu aku berjalan ke kantin, senyumnya tampak lain tapi aku tak ambil pusing. Pernah juga dia berusaha menyembunyikan sepatuku waktu pelajaran agama di masjid. Untunglah Pak Parman, pak kebun sekolah memergokinya. Aku tak bisa menahan tawaku melihat wajahnya waktu dimarahi Pak Parman, matanya yang sipit berkedip-kedip sementara bibirnya hanya bergerak-gerak tak mampu keluarkan suara karena tak diberi kesempatan berbicara oleh Pak Parman.

Sesampai di kantin aku segera memesan soto ayam kesukaanku. Sambil menunggu pesanan aku duduk di kursi di pojokan kantin. “ Mana si Miko, katanya nunggu kita disini” kata Dita. “ Biarlah kalau dia butuh dia pasti juga akan muncul sendiri” kataku

Betul juga, tak lama kemudian Miko muncul, ditangannya ada nampan berisi soto ayam dan teh hangat. “Silahkan tuan peri..ini pesanan tuan peri...!” kata Miko sambil meletakkan nampan itu didepanku.

“Kok tuan peri sih Mik, bukannya tuan putri?” tanya Dita pada Miko. “ Suka-suka aku dong...!” Jawab Miko.

“Kok punya Veni aja yang dibawain...pesananku mana?” Dita berkata sambil matanya melotot ke arah Miko. “ Tu Bu kantin masih tetep disitu, gak kemana-mana..ambil sediri gih sono...” jawab Miko. Bibir Dita langsung maju beberapa senti, sambil menggerutu dia ambil sendiri pesanan makanannya ke bu kantin.

Miko lalu duduk di kursi yang berseberangan dengan kursiku. Kali ini wajahnya tampak serius.

“Veni..setelah makananmu habis, aku minta tolong ya”

“Apa?”

“Tolong temui aku di taman sebelah kantin, please....!”

Melihat wajah seriusnya,aku jadi tidak tega untuk menolak.

“Ok, tapi menunggu Dita selesai makan dulu” jawabku.

“Eitttss...jangan sama Dita, sendiri aja...ya...please...!"

“Hah sendiri? Mau apa sih” tanyaku dengan lugunya. “Ntar tuan peri juga tau” jawab Miko.

“OK deh, tunggu sebentar lagi ya...”

Setelah makananku habis, dan berpamitan pada Dita dengan alasan ke kamar mandi, aku bergegas menemui Miko di taman sebelah kantin.

“Ada apa Mik?” tanyaku. Belum pernah aku melihat wajah Miko seserius ini. “ Ven, mungkin selama ini kamu melihat aku selalu bercanda, tak pernah serius. Tapi percayalah, apa yang akan aku katakan kepadamu ini sangat serius”

“Iya,tapi kamu mau ngomong apa Mik?” Tanyaku lagi. “Begini Ven ,aku kan kenal kamu udah lama, kamu udah tahu aku kayak gimana, aku juga ngerti kamu seperti apa...”

“Terus?”
“Akhir-akhir ini aku jadi gak enak makan, gak bisa konsentrasi belajar, diajak ngomong pun sekarang lebih banyak gak nyambung daripada nyambungnya, aku jadi sering melamun, bahkan kata adikku aku kelihatan sering senyum-senyum sendiri”

“Nah tambah parah tuh...terus ada hubungan apa,sampai aku disuruh kesini?” kupelototkan mataku.

Dengan nada bicara yang masih sama Miko melanjutkan “Ven, kamu tahu kan,aku sering usil sama kamu,sering godain kam...” Kalimat Miko langsung terhenti begitu aku teriak

“Mikoooooo...muter-muter aja dari tadi...kayak odong-odong, intinya apa? Buruan ngomong, sebentar lagi bel masuk nih” kuketuk-ketukkan ujung sepatuku ke lantai tanda tak sabar.

“Ven tahu nggak,kenapa kamu kupanggil tuan peri?
“Nggak tahu!” Jawabku dongkol
“Itu karena kamu seperti peri yang menebarkan kelopak-kelopak bunga yang memenuhi ruang hatiku, karenamu hari-hariku jadi indah, berkat senyummu hariku serasa berwarna...”
“Ah gombal kamu...”
“Tahu nggak kamu siapa nama peri yang suka menebar bunga agar hati tiap insan di dunia ini dipenuhi rasa bahagia?"
“Nggak tahu..Mikoo,”
“Dia cantik, seperti kamu,” Kalimat Miko yang terakhir mau tak mau membuat hatiku berbunga-bunga.
“ Emang nama peri itu siapa, Mik?”
“Namanya...Peri...ngisan...wkwkwkwk.”
“Hasyemmmmm...jadi dari tadi kamu manggil aku cuma buat ngerjain aku doang?”
“Ups...nona cantik, jangan marah...soal peringisan itu Cuma candaanku agar kamu tersenyum, selain itu aku serius,”

“Kriiinggg....Kringgggg” Bel tanda masuk kelas berbunyi
Tiba-tiba Miko meraih tanganku sambil berkata “ Aku serius,aku sayang sama kamu, maukah kamu jadi pacarku?”
Aku kelimpungan, tak mampu berkata-kata “Kutunggu jawabmu 3 hari lagi , disini !” kata Miko sambil melepaskan tanganku.

Aku dan Miko kembali ke kelas kami masing-masing, beruntung Pak Badri guru Bahasa Indonesia belum masuk ke kelasku.

Kutarik tas yang ada di laci meja, tiba-tiba sesuatu terjatuh. Sebuah surat rupanya dengan amplop berwarna biru. Kubuka surat itu dipangkuanku agar tidak ketahuan.

Dear Veni,
Rembulan menggantung di langit
Pendar cahayanya merasuk dalam setiap relung kalbu
Memberi warna disetiap ruang kosong dihatiku
Bagaikan pelangi, indahnya hanya dapat dirasakan
Tak cukup kata untuk melukiskan
Dikaulah pelangi itu,
kristal jiwaku yang membiaskan cahaya dari matamu
Dariku : Aldi

NB: itulah ungkapan hatiku untukmu, maaf aku tak bisa membuat puisi sendiri aku copas puisi ini dari koran, memang penulisnya belum terkenal, artikelnya pun baru beberapa, tapi puisi ini cukup mewakili hatiku untuk nyatakan cinta kepadamu, kutunggu jawabmu tiga hari lagi-salam.

Kututup lembaran surat itu sambil menahan perut yang rasanya mau meledak karena menahan tawa. Beruntung teman-temanku tidak ada yang tahu, mungkin hanya Aldi yang melihatku dari belakang.

Wadoooo....wadooooo...susahnya jadi orang cantik #ups. Ini benar-benar kacau, mimpi apa aku semalam sampai ditembak dua cowok dan menunggu jawaban di hari yang sama. Untungnya mereka minta waktu tiga hari, jadi hari ini aku masih santai. Biarlah kupikir besok saja.

:-) :-)

You Might Also Like

0 komentar: