Ternyata...

11.51.00 Retno Kusumawardani 0 Comments

Kuraih tasku dan bergegas menuruni tangga. Kantor sudah sepi karena memang aku yang terakhir pulang. Hanya tersisa Marco si penjaga malam di kantorku. Setelah menyapa dan berpamitan pada Marco, aku pulang melewati rute yang biasa aku lalui. Sengaja kupilih rute itu karena mempersingkat perjalananku pulang. Melewati sebuah gang kecil diantara gedung raksasa.

Hanya lampu temaram dari ujung gang dan cahaya yang menerobos tirai dari dalam gedung yang menerangiku. Udara mulai terasa dingin. Kunaikkan krah mantelku. Rok midi, stocking hitam panjang dan sepatu boot yang tingginya hanya beberapa cm dari ujung rokku telah melindungi kakiku dari dinginnya malam.

"Hai" sapamu tiba-tiba. "Lebih malam dari biasanya, lembur ya?" Ujarmu lagi. Aku hanya menoleh sekilas sambil tersenyum dan mengangguk pelan. Bukannya aku tak sudi melihatmu. Tapi aku tak sanggup melihat sinar matamu yang teduh dan dalam, seakan menghujam jantungku. Aku tak mampu melihat senyumanmu yang membuat hatiku seolah-olah dipenuhi balon warna-warni. Aku tertunduk dan terdiam, menahan jantungku agar tidak berdetak terlalu keras.

Ah, pria ini yang kukenal hanya sekilas. Kami bertemu di kafe di depan kantorku. Aku tak tahu mengapa pertemuan singkat itu mampu membuatku bercerita tentang diriku. Karena matanya, senyumnya atau bau parfumnya yang lembut tapi sangat laki-laki itu. Entahlah apa yang ada pada dirinya begitu memikatku. Hingga disinilah kami saat ini.

Sudah seminggu ini dia selalu menemaniku perjalanan pulangku melewati lorong sempit ini. Membuatku jadi merasa aman dan dalam hati selalu berharap agar lorong ini tak segera berakhir.
 
Lorong itu memaksa kami bejalan berdekatan, hingga aroma parfumnya sampai juga di ujung hidungku. Kuhirup pelan-pelan dan enggan kuhembuskan lagi. Berharap aromanya akan tinggal di hidungku dan menemani malamku yang penuh hayalan akan dirinya. Pelan-pelan kulirik wajahnya, ternyata dia pun sedang melirikku. Sama sama terpergok, kami pun hanya tersenyum malu-malu.

Hiruk pikuk kota masih terdengar, maklumlah kota sebesar ini seakan tak mempunyai malam. Dari kejauhan terdengar sirine mobil polisi, diikuti mobil pemadam kebakaran. Aku berdoa dalam hati, semoga semua akan baik-baik saja.

Sebuah tangan yang kokoh tiba-tiba meraih tanganku. Kulihat sebuah senyuman menghias wajahnya. Sedangkan matanya seolah-olah mencari-cari kedalam relung hatiku. "Ah apa yang kau cari ..." Pikirku. " Tanpa kau minta pun akan kuserahkan hati ini untukmu " ujarku dalam hati.

Tiba-tiba dia menahan langkahku, ditariknya tubuh ini mendekat padanya. Aku berjalan mundur. Celakanya aku malah terdesak ke dinding. Terdiam di tempat, aku tak bisa bergerak lagi. Kami berhadap-hadapan, dekat...sangat dekat.

Saking dekatnya jarak kami, sampai hembusan nafasnya mengenai wajahku. Mata itu kembali membuatku tak berkutik. Tangan kanannya menggenggam kuat tangan kiriku, sedangkan tangan kirinya diletakkan dadanya.


 "Lana...maukah kau..." Ujarnya tertahan. Tangan kirinya cekatan membuka kancing kemejanya yang paling atas. "Apa-apaan ini " pikirku. Sambil berusaha berontak kusapu pandanganku kesekeliling berharap ada orang yang lewat. Aku berteriak namun tenggorokanku tercekat.

Setelah kulihat kancing bajunya yang teratas terbuka, kubuang pandanganku ke samping. Kupejamkan mataku kuat-kuat sambil mulutku terus bergumam melanturkan doa-doa yang sempat ku ingat. Tiba-tiba aku merasa muak padanya, aku benci dan perutku merasa mual mencium aroma parfumnya. Menyesal aku pernah bersimpati, bahkan pernah berharap lebih padanya. Aku benci ... benar-benar benci.

Tiba-tiba genggaman tangannya terlepas dan terdengar sesuatu jatuh di dekat kakiku. Kubuka mataku perlahan .... Tak ada siapa-siapa di depanku.

"Lana ... aku nitip bajuku ya... tolong cucikan sekalian, aku nggak sempat nyuci karena banyak kejadian dan aku harus segera ke TKP.  Maaf ya sudah merepotkanmu"

Seseorang berpakaian serba biru yang ketat, jubah merah dan celana dalam yang dipakai diluar menyapaku dari atas sambil terbang berputar-putar.

"Jadi ... Kamu ..." Kataku terbata-bata.

"Iya ini aku ... aku tinggal dulu ya ... jangan lupa titipanku, itu yang di dekat kakimu ... makasih yaaa ...bye ...." Katanya sambil melesat ke atas.

Tinggal aku yang terbengong-bengong sendirian. Masih tak percaya, kucubit pipiku ... sakit. Kuantukkan kepalaku ke dinding ... benjol. Ah memang ini kenyataan.

Melihat seonggok pakaian di dekat kakiku, aku hanya tersenyum kecut.


You Might Also Like

0 komentar: