Tangan Ajaib Mama

00.38.00 Retno Kusumawardani 0 Comments



"Ma... boleh ya?"

"Apa sayang?"

"Aku mau beli mobil Tamiya lagi, boleh kan ma?"

"Bukannya mas Atha tadi sudah beli?"

"Iya sudah dua kali... tapi sudah rusak semuanya ma..." Atha mulai merajuk. Mama yang mendengar perubahan nada suara anaknya hanya tersenyum.

"Lho... kalau uangnya dipakai untuk beli mainan semua, nanti tidak jadi beli es krim." sahut mama. Atha hanya terdiam. 

Sebenarnya dia juga ingin membeli es krim, tapi mobil tamiyanya rusak. Sedangkan uang sangu dari pakde yang datang tempo hari, hanya cukup untuk beli salah satunya. Pikirannya menimbang-nimbang, antara beli es krim atau beli Tamiya.

"Aku akan beli tamiya lagi ah... nanti beli eskrimnya minta uang sama mama," pikir Atha.

Mama menyeka peluh yang menetes di wajahnya. Melihat mama yang terlihat lelah, Atha jadi tidak tega. Sudah setahun ini mama berjualan kue, terkadang juga menerima pesanan. Meskipun capek karena banyak pesanan, mama mengerjakan sendiri semua pesanan itu. "Untuk menjaga kualitas, lagipula kalau dikerjakan sendiri keuntungannya lebih banyak," begitu kata mama.

"Hufftt..." Atha menarik nafas panjang. Ayahnya bekerja di luar kota dan pulang setiap akhir pekan. Menunggu ayah akan terasa lama, karena hari ini masih hari Selasa. 

Dilihatnya lagi dua mobil tamiya itu. Yang berwarna merah rusak karena pengait antara motor penggerak dan badan mobil patah. Atha sudah mencoba memperbaiki dengan merekatkan kembali menggunakan lem besi. Tapi karena penampangnya terlalu kecil, pengait itu tidak bisa disambung. Sedangkan yang Hijau, semuanya utuh hanya motornya yang tiba- tiba berhenti tidak mau menyala. Sudah dicobanya dengan mengganti baterai, tapi hasilnya nihil. Motor penggeraknya sudah benar-benar rusak. Mungkin rusak karena sempat terjatuh.

Mama berjalan ke arah garasi sambil menjinjing container plastik berisi kue. "Tunggu dirumah sebentar ya... jangan kemana-mana. Mama mau mengantarkan kue pesanan tante Zahra. Nanti kalau adik bangun, bilang saja kalau mama sebentar lagi pulang." kata mama sambil bergegas.

"Oh ya...nanti kalau mama sudah pulang, boleh mama lihat tamiyanya? Siapa tahu mama bisa membetulkan, mama berangkat dulu. Assalamualaikum." lanjut mama.

"Waalaikumsalam," jawab Atha. "Mama mau membetulkan tamiyaku? Memangnya mama bisa?" pikir Atha. Tiba-tiba terdengar suara adik yang bangun tidur dan memanggil mama. Segera dihampirinya sang adik, dia ajak bermain agar tidak merengek mencari mama lagi.

Karena asyik bermain, tanpa disadari oleh Atha, mama sudah datang dari mengantarkan pesanan kue.

"Mas Atha, mana tamiya yang rusak? Biar mama lihat, siapa tahu bisa dibetulkan." kata mama. "Mama nggak capek?" tanya Atha. "Cuma sedikit." jawab mama sambil tersenyum.

Atha menjelaskan kerusakan mobil tamiya itu kepada mama. Tak lupa dia jelaskan juga usahanya dalam memperbaiki mainan itu. Mama mengangguk-angguk mendengar penjelasan Atha. Dengan terampil, mama melepas motor penggerak di kedua mainan itu. Kemudian motor dari mobil merah, dipasangkan ke mobil tamiya hijau.

Atha tertegun melihat apa yang dilakukan mama. Tak pernah terpikir olehnya menukar motor dari kedua mainannya itu agar bisa digunakan. 

"Tarrraaa... sudah selesai, sekarang coba nyalakan!" kata mama. Atha meraih mobil mainannya kemudian ditekannya tombol "on" . Tiba-tiba roda mainan itu berputar dengan kencang.

Atha memeluk mama sambil mengucapkan terima kasih. Berkat ketrampilan mama, kini mobil tamiyanya bisa digunakan lagi. Dan Atha masih bisa beli es krim tanpa meminta uang kepada mama.

Catatan :
Kata yang dicetak miring : sangu dan container

You Might Also Like

0 komentar: