Izinkan aku merasakan juga

12.36.00 Retno Kusumawardani 0 Comments

"Hilal, PR matematika kamu sudah selesai kau kerjakan?" Tanya Adam pada teman sebangkunya, Hilal. "Sudah dong, kemarin sepulang sekolah langsung aku kerjakan," Jawab Hilal. "Punyaku masih utuh, belum aku kerjakan. Kemarin sempat kulihat-lihat, sepertinya sulit." Adam berkata dengan kurang semangat. "Nah...itu dia sebabnya, kenapa PRnya kelihatan sulit. Belum mengerjakan aja, sudah bilang sulit hehehe..."timpal Hilal sambil tertawa. Adam hanya tersenyum kecut.

Adam adalah teman Hilal semenjak keduanya sekolah TK. Dan kini bersekolah di SD yang sama. Kebetulan juga mereka selalu satu kelas sejak kelas satu sampai sekarang kelas empat. Tak heran kalau keduanya menjadi teman akrab dan duduk sebangku.

"Memangnya kamu bisa mengerjakan PR matematika itu?" Tanya Adam dengan penasaran. "Bisa dong, buktinya sekarang sudah selesai walaupun besok baru dikumpulkan" jawab Hilal. "Kamu kerjakan sendiri?" Adam masih penasaran. "Mmm... enggak sih, aku dibantu bundaku."

"Ah enaknya kamu, ada bundamu yang bantu mengerjakan PR" Kata Adam sambil menunduk.

"Iya dong... bundaku pintar lho, kalau aku tanya apa saja pasti tahu jawabannya," jawab Hilal.

"Wah asyik dong" sahut Adam.

Diam diam dalam hati Adam ada rasa iri menyelinap. Dia iri pada Hilal yang bundanya selalu ada untuk Hilal, belajar bersama, bercerita, bahkan bermain bersama.

Pernah pada suatu hari Adam datang ke rumah Hilal untuk mengembalikan buku. Dari teras rumah terdengar tawa riuh rendah. Rupanya Hilal sedang bermain perang perangan dengan Ikram adiknya. Kedua kakak beradik itu mengenakan topeng yang terbuat dari karton bekas susu. Kata Hilal topeng itu dibuatkan oleh bundanya. Hilal dan Ikram bertugas mewarnai dengan krayon. Adam teringat akan topengnya di rumah, dibelikan mama dua minggu yang lalu. Topeng yang jauh lebih bagus dari milik Hilal, tapi Adam tidak pernah merasakan kebahagiaan saat memainkannya. Seperti kebahagiaan Hilal yang nampak dari tawa lebar dan peluhnya yang bercucuran karena asyik bermain.

Mama Adam adalah karyawati di sebuah perusahaan swasta. Sebenarnya, Adam rela meskipun mama bekerja, asalkan ada waktu untuk dirinya dan adiknya, Athia. Tapi mama terlalu sibuk. Jangankan bermain bersama, bertemu saja jarang.

Adam juga ingin merasakan suasana rumah yang hangat seperti di rumah Hilal. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepala Adam."Hilal, bolehkah aku ikut belajar bersama di rumahmu? Akhir-Akhir ini aku agak kesulitan memahami pelajaran." Adam beralasan. Sebenarnya Adam hanya ingin merasakan kehangatan dan perhatian seperti yang dirasakan Hilal. Sesuatu yang tidak terpikirkan oleh mamanya.

"Boleh saja, kapan mulainya? Nanti aku bilang sama bundaku" jawab Hilal. Hampir terlonjak Adam mendengar jawaban Hilal, dengan cepat dia menjawab "Nanti sore ya, tunggu aku dirumahmu!"

Perasaan Adam campur aduk antara sedih dan gembira. Sedih bila mengingat rumahnya yang selalu sepi dari gelak dan tawa canda. Dan gembira, karena sebentar lagi dia akan merasakan juga suasana rumah yang kekeluargaan, meskipun bukan di rumahnya sendiri.

You Might Also Like

0 komentar: