[FFA] Petualangan Taksaka (Seri: Bertemu Ular Sanca)

12.57.00 Retno Kusumawardani 0 Comments



20 Oct 2013 | 15:33
Cerita ini mengisahkan tentang tiga orang bersaudara yaitu Atha, Aisya dan Aksa. Taksaka adalah singkatan dari ketiga nama tersebut. Atha si anak sulung berumur dua belas tahun, badannya tegap, berambut ikal dan bermata sipit. Anak kedua bernama Aisya berumur sepuluh tahun, badannya ramping, berambut lurus, dan bermata lebar, kalau tersenyum manis sekali. Sedangkan anak ketiga bernama Aksa, anak lelaki berumur sembilan tahun itu mempunyai lesung pipit, berkulit sawo matang dan bermata tajam.

Ketiga bersaudara ini tidak terpisahkan, kemanapun mereka pergi, selalu bertiga. Kebersamaan, rasa ingin tahu dan keberanian membawa mereka ke dalam petualangan yang menegangkan sekaligus mengasyikkan untuk disimak.

PETUALANGAN TAKSAKA (SERI : Bertemu ular sanca)

Burung-burung masih berkicauan, menyambut matahari yang sinarnya kian hangat. Setelah sekian lama sembunyi dibalik cakrawala dan rimbun daun yang berembun.

Tiga bersaudara, Atha , Aisya, dan Aksa masih berada di desa, menghabiskan sisa hari libur mereka di rumah nenek. " Hari ini, hari Jumat, lebih baik kalian tinggal dirumah saja" kata nenek. "Tapi nek kami ada janji dengan Mas Bayu. Kami akan pergi ke sawah".

"Bukannya nenek melarang, nanti sajalah selepas sholat Jumat kalian berangkat. Bisa puas kalian bermain-main sampai sore" ujar nenek lagi

Bibir Aisya langsung maju lima senti mendengar perkataan nenek, sambil berbisik dia berkata "Mas, sebentar lagi kan nenek ke pasar, bagaimana kalau kita berangkat saja ke sawah. kan nenek tidak mungkin tahu" "Ah jangan...nanti kita bisa kena marah" kata Atha. Bibir Aisya pun semakin meruncing. Aisya masih saja cemberut, sampai nenek benar-benar berangkat ke pasar.

"Assalamualaikum" Serentak semua menjawab "waalaikumsalam" Mas Bayu, saudara sepupu mereka datang. Wajah Aisya berseri-seri.  " Ayo mas berangkat ke sawah! "

"Tapi...." kata Aksa

"Sssttt" sahut Aisya dengan cepat, dikerjap-kejapkannya matanya ke arah Aksa agar diam. Mas Bayu sebenarnya adalah anak yg penurut, karena tidak mengetahui larangan nenek, maka dia segera mengajak ketiga anak tersebut berangkat ke sawah.

Hamparan sawah yang menguning ada di depan mata. Bukan main senangnya hati Atha, Aisya dan Aksa melihatnya. Di sebelah barat sawah terdapat sebuah gumuk atau bukit kecil yang masih ditumbuhi pepohonan yang lebat. Sawah dan gumuk dipisahkan oleh sebuah kalen dan pematang yang mengitari persawahan tersebut.

Aisya langsung berlari ke arah gubuk yang ada di tengah sawah. setelah dilihatnya banyak burung yang memakan biji padi, ditariknya tali pengusir burung. Pada tali itu diikatkan beberapa kaleng susu. Apabila tali digoyang, maka kaleng susu itu akan bersinggungan dan mengeluarkan suara yang mengejutkan burung-burung.

"Haaaaassssyyyyyaaaa" sambil menyentak tali, Aisya berteriak.

"Huuuuuusssssyyyaaa" semakin keras dan semakin bersemangat.

Aisya tertawa-tawa kegirangan, sementara Atha, Aksa dan Mas Bayu hanya mengawasi saja dari kejauhan.

Tak terasa waktu berjalan cukup lama. Atha dan Aksa sudah mulai jenuh, sementara Aisya masih asyik mengusir burung-burung.

"Coba kalian lihat!" kata Mas Bayu. Nampak ditangannya ada sebuah ranting yang di salah satu ujungnya diikaatkan kantung kresek. "bllepp..bllleeppp" begitu bunyinya ketika ranting itu di ayun-ayunkan.

Aksa tertarik, diambilnya ranting tersebut lalu dibawanya lari sepanjang pematang sawah. "bllepp..bblleep" suaranya semakin keras. Kantung kresek itu pun berkibar-kibar.

Tiba-tiba langkahnya terhenti. Wajahnya pucat pasi. Kakinya gemetaran. Didepan Aksa melingkar seekor ular sanca sebesar lengan orang dewasa. Karena panik, dikempitnya ranting kayu dengan posisi kantung kresek dibawah. Setelah berbalik arah, Aksa berlari kencang menjauhi ular tersebut.

Sambil berlari, didengarnya ada suara "sreeekk...sreekkk" dibelakangnya.

"Pasti ular itu mengejarku" pikirnya.

Aksa berlari semakin kencang, tapi suara itu juga semakin keras dan mengikutinya.

"Tolooong...tolong..aku dikejar ular sanca" teriaknya ketakutan. karena tidak berhati-hati, Aksa tersandung dan jatuh terjerembab. Lutut dan sikunya baret-baret tergores tanah pematang yang keras.

Atha, Mas Bayu dan Aisya segera berlari menghampiri. Namun ketiganya tidak melihat ada ular sanca.

Melihat lutut dan Siku Aksa yang luka, Mas Bayu segera mengambil tunas daun pisang yang ada di sekitar situ. Dioles-oleskannya getah tunas daun pisang tersebut pada luka Aksa.

"Sudah, nggak apa-apa cuma luka kecil, sebentar lagi juga sembuh " kata Mas Bayu

"Kenapa diberi getah mas" tanya Aisya

"Getah daun pisang yang masih muda itu seperti antiseptik, jadi kuman tidak akan menempel pada luka itu"

"Oooo begitu" jawab ketiga anak itu hampir bersamaan

Sambil meringis kesakitan, Aksa berkata "Tadi aku bertemu ular sanca, di pematang sebelah sana" katanya sambil menunjuk ke suatu tempat.

"Aku langsung lari ketakutan, tapi rupanya ular itu mengejar aku, karena kudengar suara ' sreeek..sreek' dibelakangku" lanjutnya lagi.

"Biar kulihat" kata mas Bayu. "jangan mas, berbahaya"teriak Atha. tapi Mas Bayu sudah terlanjur lari ke arah yang ditunjuk oleh Aksa.

Sejurus kemudian, dia kembali sambil membawa sesuatu. "Apa itu?" Aisya bertanya.

Mas bayu meletakkan batang pisang sebesar lengan orang dewasa di depan ketiga anak tersebut. Karena sudah layu dan hampir membusuk, batang pisang tersebut dengan mudah di tekuk maupun diletakkan melingkar. Kalau dilihat sekilas, memang mirip ular.

"Ini yang kau sebut ular?" tanyanya sambil tertawa.

"Lalu suara yang menegejarku tadi suara apa?" Aksa kebingungan.

"Suara itu dari kantung kresekmu ....terseret-seret, makanya semakin kamu lari kencang, suaranya juga semakin keras" jelas Mas Bayu.

"Hahahahahahaaaa" keempat anak itu tertawa terbahak-bahak setelah menyadari apa yang terjadi.

"Gara-gara mbak Ai sih..." kata Aksa.

"Lho kok aku?" tanya Aisya bingung. "Coba tadi menurut perkataan nenek, pasti aku tidak jatuh dan jadi bahan tertawaan seperti ini" jawab aksa sambil bersungut-sungut.

"Maksud kalian apa?" Mas Bayu kebingungan. Setelah mendengar penjelasan Aksa, mas Bayu berkata " Benar-benar kalian ini...benar-benar minta dimarahi...ayo pulang sekarang! "

Liburan di desa selalu menyenangkan, karena setiap hari adalah petualangan.

NB : Untuk membaca karya peserta lain silahkan menuju akun Fiksiana Community

You Might Also Like

0 komentar: