[FFA] Petualangan Taksaka (Gubuk di Lereng Bukit)

12.48.00 Retno Kusumawardani 0 Comments



Cerita ini mengisahkan tentang tiga orang bersaudara yaitu Atha, Aisya dan Aksa. Taksaka adalah singkatan dari ketiga nama tersebut. Atha si anak sulung berumur dua belas tahun, badannya tegap, berambut ikal dan bermata sipit. Anak kedua bernama Aisya berumur sepuluh tahun, badannya ramping, berambut lurus, dan bermata lebar, kalau tersenyum manis sekali. Sedangkan anak ketiga bernama Aksa, anak lelaki berumur sembilan tahun itu mempunyai lesung pipit, berkulit sawo matang dan bermata tajam.
Ketiga bersaudara ini tidak terpisahkan, kemanapun mereka pergi, selalu bertiga. Kebersamaan, rasa ingin tahu dan keberanian membawa mereka ke dalam petualangan yang menegangkan sekaligus mengasyikkan untuk disimak.
PETUALANGAN TAKSAKA
SERI : GUBUK DI LERENG BUKIT
Harum bunga kopi menyebar tertiup angin yang lembut. Kabut mulai menipis dan sang surya dengan malu-malu mulai menampakkan sinarnya. “ ayo bangun, sholat dulu!” suara Atha memecah sepi, membangunkan Aksa yang masih terlelap. “ayo dik...bangun sebelum mas Bayu datang, kita harus sudah siap” kata Atha lagi. Mas Bayu adalah kakak sepupu mereka. Hari ini adalah hari kedua liburan di rumah nenek. Mas Bayu berjanji akan mengajak ketiga anak tersebut untuk berjalan-jalan keliling desa.
Atha dan Aksa segera bangun. Setelah mandi dan sholat subuh, kedua anak tersebut langsung menuju dapur. Ternyata Aisyah sudah bersama nenek di dapur untuk menyiapkan sarapan. “diminum dulu teh nya anak-anak, mumpung masih hangat” kata nenek dengan penuh kasih sayang. “iya nek, dingin sekali disini. Minum teh hangat di suasana seperti ini sangat cocok, terima kasih ya nek” Kata Aksa.
Sesaat setelah sarapan, mas Bayu datang ke rumah nenek. Usia mas Bayu tiga tahun lebih tua daripada Atha, tubuhnya tinggi, berkulit gelap tapi bersih. Ketiga anak itu sangat senang pada mas Bayu, karena pemberani dan pintar. “adik-adik, bagaimana...jadi berangkat sekarang?” tanya mas Bayu. “jadi dooong” jawab ketiga anak itu serempak.
“Ayo salim dulu sama nenek” kata mas Bayu.” Nek, berangkat dulu ya..Assalamualaikum” Pamit mas Bayu pada nenek. “waalaikum salam” jawab nenek.
Rumput masih basah oleh embun, ketika keempat anak itu berjalan menyusuri jalanan desa. Udara sangat sejuk, ditambah lagi wangi bunga kopi menambah nikmat suasana pagi itu. Jalanan desa sudah mulai ramai oleh penduduk desa yang berangkat ke kebun maupun ke sawah. “ kita mau jalan-jalan kemana mas bay?” tanya Aisya. “ah nanti juga tahu...” kata mas Bayu penuh rahasia.
Mas Bayu lalu mengajak ketiga anak itu melewati jalan setapak, jalan tanah itu dikelilingi pepohonan yang rimbun. “ Waduh...jalannya makin lama makin nanjak” kata Aksa, “iya mas...pelan-pelan dong, masih pagi nih buru-buru amat” Bibir Aisya mengerucut, maklumlah dia berjalan paling belakang dan sering ketinggalan.
Makin lama jalan yang dilewati semakin menanjak dan sempit. “Di ingat-ingat jalan yang sudah dilewati, siapa tahu kita nanti terpisah, jadi kalian bisa pulang sendiri” kata Mas Bayu. “Tenang aja mas, ingatanku kuat kok” jawab Atha.
Akhirnya perjalanan mereka sampai di puncak bukit. Pepohonan sudah tidak serapat sepanjang perjalanan. “Coba kalian tengok ke arah selatan” kata mas Bayu. “wow ada laut” teriak Aksa. “Ya, itu adalah pantai selatan, sedangkan laut yang luas itu adalah Samudera Hindia” Mas Bayu menjelaskan. “wah kalau kita naik perahu terus ke arah selatan, kita sampai di Australia dong” kata Atha. “Yee...mas Atha ...ngapain ke Australia naik perahu, naik pesawat aja lebih enak, cepet lagi” kata Aksa. Semua pun tertawa mendengar kata-kata Aksa, cuma Atha yang menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “iya..ya...” katanya.
Keempat anak itu asyik mengobrol di puncak bukit, sambil bersenda gurau dan memakan bekal yang dibawakan nenek. “Mas nama bukit ini apa?” tanya Aisya. “Namanya bukit Gober” kata mas Bayu
“Namanya kok aneh, artinya apa?” tanya Atha
“Oh itu ada ceritanya” kata mas Bayu. ”Sini kalian mendekat padaku, biar aku ceritakan” tambah mas Bayu lagi. Keempat anak itu pun saling mendekat.
Dengan suara yang sangat pelan, mas Bayu bercerita ” konon katanya di gunung ini dihuni oleh naga terbang, naga dalam bahasa jawa disebut nogo, sedangkan terbang dalam bahasa jawa miber. Jadi kalau disingkat namanya jadi gober.Nogo miber. Katanya, Naga itu adalah peliharaan seorang kakek yang pernah tinggal di bukit ini”
“Kok ceritanya sambil berbisik-bisik mas?” tanya Atha
“Sssttt...kata orang-orang, naga itu kadang masih terlihat terbang mengitari bukit ini’’ jawab mas Bayu.’’Masa sih?...aduuhh...pulang aja deh,aku takut kalau ketemu naga” kata Aisyah sambil merengek. ” Iya sebentar lagi” sahut mas Bayu sambil mencari tempat yang agak lapang. Ditempat yang terkena sinar matahari, mas Bayu berdiri . Setelah menghadap ke utara, mas Bayu lalu membuat lingkaran di tanah. Kemudian ditancapkannya sebuah ranting di tengah lingkaran itu.
“Ssttt mas bayu sedang apa?” Tanya Aksa sambil berbisik kepada Atha. “Aku juga tidak tahu dik” jawab Atha sambil berbisik pula. “Jangan-jangan mas Bayu sedang memanggil naga?” tanya Aisya sambil ketakutan
“Sudah...ayo sekarang ikut mas Bayu” suara mas Bayu yang keras mengagetkan ketiga anak yang sedang ketakutan itu. “mas Bayu tadi ngapain? Tanya Atha. “Ritual memanggil naga” jawab mas Bayu sambil tersenyum. Saking takutnya, ketiga anak tersebut tidak sempat mengartikan senyum mas Bayu.
Dengan berjalan cepat, mas Bayu menuruni bukit ke arah yang berlawanan dengan kedatangan mereka. Tiba-tiba saja mas Bayu berhenti. ”Sstt jangan berisik, kalian tunggu disini” kata mas Bayu. Tak jauh dari tempat anak-anak itu berhenti, nampak sebuah gubuk tua. Mas Bayu berjalan perlahan-lahan ke arah gubuk tua itu. Ketiga bersaudara itu semakin ketakutan ditinggal mas Bayu.”jangan-jangan ini rumah kakek yang punya naga” kata Aksa ketakutan “mungkin juga, rumahnya nampak seram” kata Aisya. Ketiganya makin dicekam rasa takut.
Nduk, le kalian sedang apa disini?” sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah belakang mereka” serempak ketiganya menoleh ke belakang. Nampak seorang kakek tua, badannya kurus, mengenakan topi pak tani yang sudah usang. Dengan baju yang kebesaran mirip orang-orangan sawah, berdiri tepat di belakang mereka. Ditangannya memegang sebuah boding. Sontak ketiganya kaget setengah mati dan tanpa dikomando ketiganya lari sekencang-kencangnya ke arah rumah nenek.
Setelah keluar dari jalan setapak, barulah mereka berjalan kaki, nafas mereka memburu setelah lari terpontang-panting. Sambil terngah-engah Aisya berkata ”Mana mas Bayu?”
“Bagaimana ini, mas Bayu ketinggalan...”Aksa berkata dengan cemas.
“Berhenti dulu! Kita istirahat sebentar, sambil memikirkanapa yang akan kita lakukan selanjutnya ” Atha mengkomando kedua adiknya. “Kalau nenek menanyakan mas Bayu, kita mau jawab apa?”. Tanya Aisya. “jangan-jangan mas Bayu, ditawan oleh kakek tua tadi” Aksa menyahut.
Setelah beberapa saat ketiganya terdiam, memikirkan langkah apa yang akan mereka ambil selanjutnya. Sebagai anak paling besar, Atha merasa bertanggung jawab telah meninggalkan mas Bayu sendirian. “Sudahlah, sekarang kita pulang dulu ke rumah nenek. Kita ceritakan kejadian sebenarnya kepada nenek. Jadi, kalau terjadi apa-apa dengan mas Bayu, dapat segera tertolong” Atha mengambil keputusan.
Dengan lunglai ketiganya berjalan pulang. Sesampai di rumah nenek, mata Aisya sudah berkaca-kaca karena bingung memikirkan keberadaan mas Bayu. Melihat ketiganya pulang tanpa Bayu, ditambah lagi wajah yang kusut masai membuat nenek keheranan. “Apa yang terjadi? Kenapa wajah kalian kusut seperti itu? Mana mas Bayu?” berondongan pertanyaan nenek membuat ketiganya bertambah kalut. Ingin menjawab tapi tak tahu harus mulai darimana. Tangis Aisya hampir pecah.
“Assalamualaikum” tiba-tiba terdengar suara salam. “waalaikumsalam” keempatnya menjawab secara serentak sambil menoleh ke arah sumber suara. “Mas Bayu!!!” teriak Aisya kegirangan.
Dari pintu depan, muncul mas Bayu dengan tangan kanan menenteng bungkusan dan tangan kiri membawa sapu lidi. “ duh kalian bertiga ini, kenapa aku ditinggal?” keluh Bayu. “ Mas Bayu, tidak apa-apa kan?” tanya Aisya. “Tidak apa-apa sih iya, tapi tadi sempat bingung mencari kalian. Untung kek Darmin cerita kalau bertemu tiga orang anak yang langsung lari tunggang langgang begitu bertemu beliau”
“Jadi mas Bayu kenal dengan kakek yang tadi?” tanya Aksa
“Ya kenal lah..., oh ya nek dapat salam dari nek Darmin, beliau juga menitipkan thiwul dan gathot ini untuk nenek” kata Bayu. “Alhamdulillah dapat rejeki, makasih yo le” nenek tersenyum gembira sambil menerima bungkusan dari mas Bayu.
“Terus, mas Bayu dapat sapu lidi ini darimana?” tanya Aksa dengan nada masih penasaran. “Kakek dan nenek Darmin itu pekerjaannya membuat sapu lidi, kebetulan aku disuruh ibuku untuk mengambil pesanan sapu lidi di rumah Kek Darmin, makanya kalian tadi aku ajak ke lereng bukit...” jelas mas Bayu panjang lebar.
“ Jadi...kakek yang tadi itu bukan kakek yang punya peliharaan naga?” tanya Aisya dengan lugu. “Aduhgenduuukkk....cerita naga itu cuma legenda. Sudah tidak ada lagi di jaman sekarang” jawab mas Bayu sambil tertawa.
“Tadi di puncak bukit, mas Bayu melakukan ritual apa hayooo?” tanya Atha, “yang mana?” Bayu kebingungan. “Mas Bayu jongkok, terus membuat lingkaran yang ditengah-tengahnya ditancapi ranting” jawab Aksa. “Ooo itu...itu bukan ritual, tapi mas Bayu lihat jam hehehe” Bayu menjawab pertanyaan Aksa sambil tertawa.
“maksudnyaaaaa?” tanya ketiga anak itu hampir bersamaan. “Kalau kalian keluar rumah dan lupa tidak bawa jam, coba deh cari tempat yang terkena sinar matahari”
“terus?”
“hadaplah ke utara, anggap arah utara itu angka dua belas, arah selatan sebagai angka enam, nah sekarang kalian lihat bayang-bayang tubuh kalian menunjuk ke angka berapa” Bayu menjelaskan dengan detail. “ooo...aku kira mas bayu tadi betul-betul memanggil naga” kata Atha sambil tertawa malu. “kan tadi mas bayu bilang kalau upacara memanggil naga sambil senyum, maksudnya ya bercanda”jawab Bayu. “saking takutnya, sampai tadi gak kepikiran kalau mas bayu sedang bercanda hahahaha....” keempat anak itupun tertawa terbahak-bahak mengingat kekonyolan yang mereka lakukan. “jadi malu sendiri, apalagi kalau ketemu Kek Darmin lagi...mau ditaruh dimana mukaku ini” kata Atha. “Makanya kalau melihat orang, jangan melalui penampilannya saja hahaha” kata Bayu.
“Anak-anak...ayo dimakan thiwul sama gathotnya, sudah ditambah parutan kelapa, garam dan gula, pasti kalian suka” seru nenek sambil membawa nampan berisi dua piringgathot dan thiwul. Tanpa pikir panjang lagi keempat anak itu pun melahap habis gathot dan thiwul pemberian Kakek dan Nenek Darmin.
Liburan di desa selalu menyenangkan karena setiap hari penuh petualangan yang menegangkan dan tak terduga.

You Might Also Like

0 komentar: