kopi

13.24.00 Retno Kusumawardani 0 Comments

Dipetiknya perlahan biji-biji kopi yang merah, dia jaga benar-benar agar tangkainya tak ikut patah ” Bisa-bisa aku menunggu panen dua tahun lagi , kalau sampai tangkai-tangkai ini patah” pikirnya. Sesekali disekanya butiran keringat yang menetes dari kulit wajahnya. Matahari begitu terik, tapi dia harus tetap memetik kopi, sayang sekali buah kopi yang sudah merah itu kalau tidak segera dipetik, bisa rontok dan tangkainya jadi kering.

“Sudah dua hari bubuk kopi dirumah habis, kasihan suamiku tak bisa minum kopi lagi” Perempuan itu bergumam sendiri sambil memikirkan apa-apa yang akan dilakukannya nanti setelah memetik kopi.

“Biarlah kutunggu sampai matahari agak turun, lalu aku akan goreng kopi yang sudah kering itu” ujarnya lagi.
Sudah lima belas hari lebih biji-biji kopi yang kini sedang dijemur di emperan rumahnya itu dia bawa keluar masuk tiap pagi dan sore. Tak jarang dia harus berkejaran dengan hujan, agar biji kopinya tak basah oleh air yang turun dari langit itu.
Dilihatnya keranjang bambunya sudah hampir penuh oleh biji kopi segar. “Ah kugiling saja kopi segar ini biar kulitnya pecah, bisa langsung kujemur esok hari” Dibawanya keranjang itu ke belakang rumahnya. Dengan sebuah gilingan kayu, digilingnya kopi-kopi itu sampai kulitnya pecah dan biji-biji kopi yang lengket itu menyembul keluar.

Setelah urusan dengan kopi segar itu selesai. Diambilnya kayu bakar, yang kemudian disulutnya kayu itu di tungku. Diatas tungku itu sudah bertengger     sebuah sangan, wajan dari tanah untuk menyangraikopi.

Disangrainya biji kopi kering yang sudah dijemurnya berhari-hari. Api dijaga tak terlalu besar, agar kopi tidak gosong. tangannya tak henti-henti bergerak membolak-balik kopi diatas wajan dengan sutil kayu.
Peluh semakin membanjiri tubuhnya. Sudah tak dihiraukannya lagi rasa letih yang menyerang. Dia hanya memikirkan suaminya yang sudah dua hari tidak minum kopi. Dia hanya ingin suaminya bisa minum kopi buatannya malam ini.

Hampir dua jam untuk membuat biji-biji kopi diatas wajan itu berubah warna. Menghitam, dengan aroma yang khas. Setelah dingin, ditumbuknya biji-biji kopi itu di sebuah lesung batu.
“Dug” suara alu beradu dengan biji kopi dan dinding lesung batu.
“Dug dug ” Biji kopi pecah menjadi butiran kecil, iramanya memecah kesunyian.
“Dug dug dug” suaranya membangunkan serangga-serangga yang selalu bersenandung ketika matahari hendak tenggelam.

Kini suara alu, bubuk kopi dan lesung ditemani oleh nyanyian serangga. Diayaknya bubuk kopi itu, yang sudah halus dimasukkan ke dalam toples kaca, yang masih kasar ditumbuk lagi. Dilakukannya berulang-ulang sampai semua menjadi bubuk kopi halus.
Nampak sekulum senyum di bibirnya.” Selesai sudah pekerjaanku, sebentar lagi suamiku pulang, dia pasti senang bisa minum kopi kegemarannya”

Toples kaca yang penuh bubuk kopi dan sudah tertutup rapat itu dipandangi dengan rasa puas.
Diseretnya sebuah kursi tua, rupanya dia hendak menyimpan toples itu di lemari bagian atas. Tubuhnya tak begitu tinggi sehingga memerlukan kursi tua itu sebagai tumpuan. Tiba-tiba sesuatu menyergap wajahnya
“Aahhh” teriaknya.
Karena terkejut, toples kaca itu terlempar ke atas.
” Pyarrr”
Suara toples beradu dengan lesung batu yang belum sempat dikembalikan ketempatnya. Toples hancur, isinya bertebaran dilantai tanah bercampur dengan pecahan kaca.
Perempuan itu hanya terpaku

You Might Also Like

0 komentar: